Jumat, 23 November 2012

ADA 9 SITI YANG HARUS DICONTOH


Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

sahabat fillah berikutnama 9 wanita yang istimewa dan luar biasa yang patut
dicontohi .
semoga Kita sebagai wanita akhir zaman bisa menteladaninya Aamiin

SITI KHODIJAH

Istri Rasululloh yang melahirkan 2 orang anak rasululloh
istri yang setia dan selalu menyokong Rasululloh walaupu ditentang hebat oleh orang-orang kafir dan musyrik
istri yang selalu mengantarksn makanan untuk baginda selama baginda digua Hira

“SITI FATIMAH

Anak Rasululloh yang tinggi budi pekertinya
sangat penuh kasih dan setia pada suaminya Ali karamallahu wajhah
walaupun Ali miskin,tidur beralaskan satu bantal dan kadang “berbantalkan lengan Ali
“Rasululloh pernah berkata “Aku takkan memaafkanmu wahai fatimah sebelum Ali memaafkanmu”

“SITI AISYAH

Beliau istri Rasululloh yang paling Romantis
sanggup makan dan minum bekas Rasululloh,dimana Nabi SAW minum disitu pula beliau akan minum menggunakan bekad yang sama

“SITI HAJAR

Istri Nabi Ibrahim yang patuh kepada suami dan suruhan Allah
sanggup ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim atas suruhan Allah demi kebaikan
berjuang mencari air untuk putranya Nabi ismail(pengorbanan ibu yang luar biasa)

“SITI MARIAM

wanita suci yang memang pandang menjaga diri dan kehormatan
yang mempunyai maruah tinggi,sehingga Rahimnya dipilih Allah SWT untuk mengandung Nabi Isa

SITI ASIAH
istri firaun yang tinggi imanya dan tidak gentar dengan ujian yg dihadapinya ari pada Firaun laknatullah

SITI AMINAH

wanita mulia yang menjadi ibu kandung Rasululloh
mendidik baginda menjadi insan mulia


SITI MUTI’AH
mmenyediakan tongkat untuk dipukul oleh suaminya
istri yang patut dicontohi dan dijanjikan Allah masuk surga
untuknya, karena setianya pada suami,menjaga makan dan minumnya.
menyediakan tongkat untuk dipukul oleh suaminya sekiranya pelayananya kurang memuaskan
ia berhias dengan sangat cantik hanya untuk suaminya

SITI ZUBAIDAH
wanita yang dermawan yang menjadi istru khalifah Harun Al-Rasyid sungguh membelanjakan semua hartanya untuk membina terusan untuk oranfbanyak semata karena Allah
SUBHANALLAH……

PERTENGKARAN YANG INDAH ^^


"Tapi kan tidak terlihat..." katamu membela diri

"Bukan masalah terlihat atau tidak terlihat, tapi ini masalah privasi! Harusnya kamu gak membiarkan terbuka pintunya" kataku tegang menahan amarah dalam dada.

"Iya, maaf..." Katamu enteng.

Aku diam. Mengalihkan perhatianku ke keybord. Tanganku memencet sembarangan dan tak beraturan. Aku sedang tidak bisa memaafkanmu kalau begini yang Kurasa.

Hanya masalah sepele, mungkin. Tapi tidak bagiku. Berawal dari seorang lelaki entah siapa yang berkunjung ke tempat kost. Siang itu Aku yang sedang rehat dengan posisi tiduran di ruang depan kaget bukan main, karena pintu depan yang ku kira 'aman' ternyata terbuka. Aku sangat terlambat menyadarinya, karena tiba- tiba temanku satu Kost sedang bercakap- cakap dengan teman Prianya. Belum sempat aku berteriak kenapa tiba2 Pria masuk ke wilayah kostku, Aku langsung menarik taplak meja yang panjang dan menutupi kepalaku.

"Yang penting kan tidak terlihat" Katamu lagi ketika aku mengatakan keberatanku atas sikapmu. Rupanya kau belum mengerti.

Ku hentikan aksi tak jelas tanganku di atas keyboardku. Kau benar-benar membuatku semakin marah. Dengan gerakan cepat ku dekati engkau.

"Tatap mataku! " kataku seperti kesetanan. Allah... tolong kendalikan aku.

"Ok, gue salah, gue minta maaf. Sudah, tidak usah dibesar-besarkan!" Katamu diplomatis.

Sayup, ku dengar cahaya-hatinya opick mengalun dari winamp laptopku yang masih menyala. "Allah itu dekat, penuh kasih sayang, tak kan pernah engkau biarkan hambaMu menangis, Karena kemurahanMu, karena kasih sayangMu"

"Allah itu dekat, penuh kasih sayang," begitu yang terekam jelas di otakku. Kualihkan tatapanku- Aku mencari pengendali amarahku- Tuhan tolong !! Syeitan sedang mengendaraiku.

"Ri..." Kataku dengan volume lebih rendah dari sebelumnya.

"Kau pernah melihatku keluar tanpa kaos kaki meski hanya minjemin buku ke tetangga? Tidak kan? Padahal itu hanya kaki yang ditutup, kaki yang tak kan menjadi perhatian siapapun. Begitulah aku menjaga diriku. Bukan masalah terlihat atau tidak terlihat. Tapi ini masalah aturan main yang jelas.
Aku senang bisa belajar cara dandan yang benar darimu, tapi apakah engkau pernah melihatku berdandan ria kalau mau pergi kemana gitu? Yang ingin ku katakan padamu adalah, bahwa kita punya cara pandang dan cara menjalani hidup yang berbeda."

"Aku memang belum bisa sepertimu, terlalu berat" katamu menyela dengan posisi siap melawanku.

"Ok, bagus itu, karena kamu sudah menyadari satu hal, Bahwa kita memiliki Prinsip yang cukup berbeda.  Meski bukan berarti aku lebih baik darimu. Yang seharusnya menjadi pertanyaan, kenapa kita bisa berbeda, padahal kita sama-sama muslimah? Dari cara makai jilbab sampai cara bergaul kita berbeda. Kau tahu, aku tidak benar- benar baik dan tidak bisa menggurui. Tapi lihat- Kau telah menyadari perbedaan kita” Aku maju satu langkah- Kesan pantang menyerah.

"Jangan hakimi aku!" Teriakmu padaku.

"Hey..." Ku pegang pundakmu.

"Hidup ini hanya berisi 'Ya' dan 'Tidak', 'Benar' dan 'Salah', 'Baik' dan 'Buruk', 'Taat' dan 'Ingkar' hingga pada akhirnya nanti 'Surga' dan 'Neraka'. Kita pasti pernah, sedang dan akan berada di salah satunya. Meski banyak pemahan abu- abu, Namun tidak dengan Tauhid dan Aqidah. Berawal dari kejadian barusan, Maka aku harus jelaskan apa yang aku mau” Kataku masih memegangi pundakmu.

"Sudah, nggak usah dibahas. Malas aku bahas yang gituan..." Katamu. Berdiri dan mengambil air minum. Ku kejar engkau.

"Ok. Baik. Fine. Mari kita saling mengerti. Aku hanya minta tolong satu hal padamu" Aku tidak mau pembicaraan ini tidak selesai.

"Apa?" Kau berteriak padaku.

"Tolong bantu aku menjaga diri" Kataku jelas. Jelas sejelas-jelasnya. Engkau sedikit tersentak.

"Maksudmu?"

"Maksudku, aku membutuhkanmu untuk membantu menjaga apa-apa yang selama ini ku jaga. Karena, aku memang tak bisa sendiri. Seperti contoh kasus tadi, Membiarkan pintu terbuka Sementara kau sedang bersama teman lelakimu, sementara aku sedang dalam posisi tidur, Itu sangat tidak membantuku menjaga diri"
“Aku sudah minta maaf. Kau memperpanjang masalah ini Siti. Aku Malas mendengarnya. Aku mau tidur” Kau menjauhiku.

"Sekarang bukan masalah Maaf, tapi aku ingin kamu mengerti. Pun, demikian. Kamu boleh menuntutku untuk Mengerti kamu."

"Ok, apa lagi yang perlu ku jaga?!"

"Ri... " Kataku terputus. Kenapa akhir pembicaran jadi begini? Bukan pembicaraan seperti ini yang ku inginkan. Aku, masih belum bisa menembus hatimu.

"Terima kasih sudah mau menjagaku. Semoga aku bisa membalasnya. Maaf ya, sudah merepotkanmu"

"Jangan lebay gitu deh..." katamu (lagi-lagi) enteng...

“Sepertinya  aku ingin benar- benar bertengkar denganmu..” Kataku lalu tersenyum. Hatiku mulai menemukan obrolan humor. Kau ikut tersenyum lalu memegang pundakku.

“Ya, sepertinya…”Katamu lalu menarikku. Tidak sampai lima menit, Kost kita sudah diramaikan dengan obrolan dan canda tawa kita. Hahaha

DIALOG DIRI MUSLIMAH


Tak ku pungkiri,....
bahwa kebun hatiku memang menyimpan sebuah benih cinta..
Baru berbentuk benih, belum ditanam, belum dipupuk,
apalagi tumbuh bersemi....

Yaa,.... benih cinta itu sudah aku titipkan pada Rabbku..
Aku biarkan Dia yang menjaganya untuk orang yang tepat..
Orang yang memang Dia halalkan untuk menanam benih cinta itu di kebun hatiku..

Dan siapa orang yang tepat???

Sedikitpun aku tak tau bagaimana skenarioNya..
Sedikitpun aku juga tak berani berspekulasi terhadap keadaan di sekitar..
Karena aku ingin semua tetap di dalam aturanNya yang benar..
Namun keyakinan akan janjiNya tak kan sedikitpun goyah..

Bahwa laki-laki yg sholeh hanya untuk wanita yg sholehah..

Biar waktu berkata tentang benih cinta yang indah..
Karena segalanya mudah bagi Allah..
Saat hati bertanya tentang sebuah nama yang masih menjadi rahasiaNya sendiri..
Sebuah kepastian yang berselimut misteri..


***Sesaat aku berdialog bersama diri.........

AKU & ADIK PEREMPUANKU ^^


Saudara perempuanku bernama Hanifah. Ketika dia lahir, aku berusia 16 bulan.
Jarak yang sangat dekat, Membuat kami tumbuh bersama. Besar secara bersamaan.
Ketika dia lahir, Aku masih belajar berdiri. dan jika itu kuingat sekarang, Aku sangat menyesal karena tidak bisa menggendongnya. Pernah aku mencobanya- dan dia terjatuh ke lantai. Mama menampar pundakku. Aku menangis melebihi suara tangis Hanifah yang kesakitan akibat kujatuhkan secara tidak sengaja.

Masa kecil kami lalui dengan penuh pertengkaran dan Ambisius yang tinggi. Aku akan marah jika dia mengakui mainanku sebagai mainannya dan dia akan melemparku dengan sandal jika dia mendapatiku diam- diam memakai celana dalamnya.Dan sesuatu yang sangat Aneh namun wajar terjadi- Aku menjadi kesayangan Ayah dan Hanifah menjadi kesayangan Mama.
Sudah seperti "kesepakatan abstrak" bahwa ketika aku menangis, aku akan mencari Ayah. dan ketika Hanifah menjerit karena kucubit, dia akan mencari Mama dimanapun berada. Kami bukan saudara perempuan yang Akur waktu kecil. Pertumbuhan kami diwarnai dengan Egoisme yang tinggi. kami saling merebut mainan. Saling mengaku paling rajin dan Akan saling bersaing menjelang Hari raya.

Aku dengan sangat bangga akan memamerkan Sepatu baruku padanya ketika menjelang lebaran, dan aku berharap dia menangis karena cemburu. Benar saja, Hanifah mulai cemberut. Namun ketika kupaksa dia untuk menunjukkan juga sepatu miliknya, Dia menolak dan dia akan mengatakan kalau dia akan menunjukkannya ketika lebaran nanti. Aku tahu itu sangat membuatku kesal- karena dia berniat membuatku balik Mencemburui sepatunya. Namun malam- malam berikutnya aku akan diam- diam membongkar kamar dan mencari dimana dia menyimpan sepatunya.

Ketika sahabatnya datang berkunjung ke rumah kami, Hanifah tak mengenalkan sahabatnya padaku. dan aku tak menunjukkan wajah ingin dikenalkan, karena menurutku itu tidak penting. Lalu tiba- tiba aku mengetahui dari Mama kalau Hanifah pergi bersama sahabatnya itu. Wah, parah, pikirku. Dia tak berpamitan padaku dan aku tak sempat melihatnya pergi. Lalu setengah jam setelah kepergiannya, aku baru menyadari bahwa Jacket terbaikku sudah raib.
"Anak itu memakainya" aku merasa sangat kecolongan.
Aku bisa membayangkan betapa percaya dirinya dia mengenakan Jacketku yang bagus itu.
Dia selalu begitu.
Jika pergi secara diam- diam, Aku tahu bahwa dia sedang memakai benda milikku.
Dan aku pun melakukannya padanya, Akhirnya.

Sewaktu kecil, Kami memiliki postur tubuh yang hampir sama. kami sama- sama pendek dan Mama selalu mengikat rambut kami dengan sebuah karet gelang- dan di sekolah, kami dijuluki "Si gadis dengan pohon kelapa dikepalanya".
Kami akan menangis dan memaksa Mama mengganti model kepangannya. Namun Mama balik memarahi kami.
Dan entah bagaimana kami akhirnya Besar seiring Kepangan Kelapa Jelek itu.
Aku dan saudara perempuanku kini sudah dewasa.
Dia berusia 19 tahun dan Aku 20 tahun.
Dia di Medan dan Aku di Jakarta.
Kami selalu saling menanyakan kabar lewat Telpon, Sms dan Chat.
Kami sekarang sudah tidak lagi bertengkar karena Mainan.
Tidak lagi saling memukul dan Mencubit.
Kami lebih rutin membicarakan Cita- cita.
Membicarakan Ayah Mama kami.
Dan Membicarakan Pria yang singgah di hati kami.

Jika kau tak pernah Merasakan Sangat membenci sekaligus mencintai perempuan, Jika kau tidak pernah merasakan ingin merebut makanan sekaligus membagi makanan pada Anak perempuan, Barangkali kau tidak memiliki Saudara perempuan.
Dan menurutku, Memiliki saudari perempuan berarti memiliki Belahan jiwa.
Memiliki Sekutu sekaligus musuh.
Memiliki pendamping di hari pernikahanmu nanti,
Dan Memiliki Hanifah, Bagiku sama saja artinya Memiliki seseorang yang bisa kutelpon di Jam 03.00  pagi.

With Much Loves,
Sofia hasibuan For  Hanifah Hasibuan

Selasa, 01 November 2011

TERUNTUK AYAHKU

Ayah.....
aku masih fiah,putri kecil ayah yang dulu..
aku masih ingin ayah peluk,ingin ayah manja..
Ayah....
banyak hal yang sudah aku lalui...
banyak kerikil yang pernah menyakiti perjalanan hidupku....
banyak orang yang pernah mencibirku...
tapi kau slalu ada untukku,
tetap merangkulku,seolah menyemangatiku dalam keputus asaanku..

Ayah...
sekarang aku semakin dewasa...
perlahan-lahan aku semakin jauh darimu...
kita dihalangi pulau yang luas...
menbuatku takut sesuatu terjadi padamu..

Ayah.....
disini aku sering menangis merindukanmu...
mengingat saat kau hampir tak pernah menolak keinginanku...
meski yang kuminta terlalu berlebihan..
tapi kau tak sampai hati melihatku sedih...
Ayah....
aku akan menuruti kamauanmu....
menjadi putri terbaik yang takkan menyia-nyiakanmu..
aku akn jadi tongkatmu di masa tua nanti...
dan takkan kubiarkan seorang pun yang menyakitimu....

Ayah...
kau laki-laki yang paling aku sayangi....
tak ada alasan untukku menyakitimu...
aku akan jadi kakak yang baik untuk adik-adik...

I am Promise, Dad......

: A Thousand Splendid Suns

Judul : A Thousand Splendid Suns
Penulis : Khaled Hosseini
Penerbit : Qanita
Tahun : 2007
Genre : Novel
Tebal : 516 Halaman
ISBN : 979-3269-68-5




A thousand splendid suns. Seribu mentari surga. Sebuah novel yang mengetengahkan konflik demi konflik seorang perempuan yang terlahir sebagai anak haram anak yang lahir dari hubungan tidak sah, yang berjuang untuk memberi makna pada hidupnya. Novel ini ditulis oleh seorang penulis yang namanya terkenal setelah karyanya yang berjudul “The Kite Runner”. Bahkan “A Thousand Splendid Suns” ini diprediksi akan mengikuti jejak pendahulunya menjadi sebuah film layar lebar di Hollywood.
Penulis novel ini sangat jeli menggambarkan detail-detail kehidupan, mulai dari pakaian, mimik muka hingga setting latar tiap episode-episode. Benar-benar memberikan gambaran yang hidup. 

Tak hanya itu, pilihan kata-kata yang digunakan oleh Hosseini sungguh mengagumkan, hingga mampu mengorek, mengaduk-ngaduk bahkan mengoyak-ngoyak perasaan para pembacanya. Novel setebal 516 halaman ini dirangkai secara apik. Sang penulis sangat lihai menghubungkan alur-alur cerita yang sedang berlangsung dengan cerita-cerita sebelumnya. Sehingga tidak terkesan terputus atau terlupakan begitu saja. Bahkan tiap kalimat yang ada pada episode-episode awal, justru dihidupkan kembali di episode selanjutnya. Bahkan menjadi pemanis saat diketengahkan kembali di episode penutup. Luar biasa.

Patut diacungi jempol karena mampu menghadirkan pergolakan batin, konflik yang sedemikian rumit, dan terkesan tak ada harapan bahagia untuk si tokoh utama, namun pada akhirnya, justru semua itu diakhiri dengan secuil episode yang sangat menawan, walaupun harus berakhir haru menyedihkan.

Antara bab pertama dan bab kedua dalam novel ini, terkesan tidak ada sangkut pautnya. Tokoh utama seakang hilang tak berbekas, yang ada adalah tokoh utama kedua. Namun ternyata kedua tokoh tersebut akhirnya disatukan dalam episode-episode berikutnya dimulai dari sebuah moment yang sangat unik, tak terduga. Di novel ini pula, pembaca akan dapat melihat sebuah kesabaran tanpa batas dari seorang perempuan yang tak pernah diinginkan lahir ke dunia. Kesabaran yang harus ditebusnya dengan penderitaan tak kunjung reda sejak ia lahir ke dunia, namun akhirnya ia mendapatkan cinta dan keindahan hidup walaupun harus berakhir tragis. Jadi siapkanlah tissue yang banyak sebelum membaca novel ini.
* * *
Mariam. Seorang anak perempuan yang tak pernah diakui secara sah oleh ayahnya, Jalil. Walaupun kenyataannya mereka terikat secara batin, dan saling mengasihi layaknya ayah dan anak. Hanya saja, Jalil tak mau menunjukkannya kepada khalayak. Maka ditutupinya hubungan darahnya itu dengan memberikan Mariam dan ibunya, Nana sebuah gubuk di desa terpencil, Gul Damam. Sekali dalam sepekan Jalil secara rutin mengunjungi Mariam, dan kadang-kadang membawakan hadiah sebagai bukti sayangnya kepada Mariam.

Mariam dibesarkan ditangan seorang ibu yang tak mengijinkannya bersekolah, karena ketakutannya pada olok-olokan teman-teman Mariam kelak. Sehingga Mariam kecil tumbuh tanpa pengetahuan. Satu-satunya ilmu yang dia dapat adalah dari Mullah Faizullah, seorang kakek tua yang mengajarinya membaca Al-Quran dan sembahyang. Namun kadang-kadang ayahnya, Jalil sering pula menceritakan bagaimana kehidupan-kehidupan di kota, dan kadang membacakan kepadanya syair-syair.

Hingga pada umur 15 tahun, Mariam meminta kado kepada ayahnya agar mengajak dia menonton di bioskop miliknya bersama anak-anak Jalil yang lain. Sebuah film yang pernah ayahnya ceritakan, yaitu seorang pengrajin kayu yang mendapati boneka kayunya hidup dan dapat bergerak. Namun permintaan itu, tentu saja mendapatkan penolakan, walaupun disampaikan secara halus. Hingga akhirnya, Mariam nekad pergi sendiri ke kota dan mencari rumah pengusaha terkenal, yaitu ayahnya, Jalil.

Setelah menemukan rumah yang dimaksud sampai harus tidur di jalanan, Mariam harus kecewa untuk yang kesekian kali karena ayahnya justru menyuruh sopirnya memulangkan Mariam pulang ke Gul-Damam. Dan seketika pulang ke rumahnya, Mariam mendapati ibunya telah gantung diri karena merasa kehilangan anaknya. Tak cukup disitu saja penderitaannya berakhir, setelah beberapa hari kematian ibu kandungnya, Mariam kini dipaksa ayahnya untuk menikah dengan seorang laki-laki dari Kabul, yaitu Rasheed seorang pengusaha sepatu yang umurnya 40 tahunan.

Di rumah suaminya, selama satu tahun pertama Mariam mendapat perhatian cukup baik dari Rasheed. Namun setelah Mariam keguguran, Rasheed mulai menyiksa Mariam secara fisik. Dan kekejaman Rasheed mulai menjadi-jadi kala Mariam selama 7 kali kehamilan, maka 7 kali keguguran pula.

Konflik selanjutnya pun segera muncul. Tetangga satu blok rumahnya terkena rudal Soviet, sehingga semua penghuni rumah itu tewas, kecuali anak gadisnya yang bernama Laila. Laila kemudian dirawat oleh Mariam di rumah Rasheed. Dengan dalih ingin melindungi, Rasheed kemudian menikahi Laila. Perseteruan antara Mariam dan Laila pun mulai tumbuh dan makin menyengit dari hari ke hari. Keduanya saling melemparkan pandangan sinis ketika bertemu. Mariam merasa, Laila telah merebut suaminya, walaupun pada kenyataannya Rasheed sering menyakitinya. 

Di sisi lain, Rasheed tentu lebih menyayangi Laila, karena ia lebih cantik dan lebih muda tentunya. Dan kecintaan Rasheed kepada Laila makin bertambah ketika Laila mulai mengandung anaknya.Laila pun melahirkan anak perempuan cantik, Aziza. Namun bagi Rasheed, itu adalah suatu aib. Maka sejak saat itulah Rasheed mulai memperlakukan Laila sama seperti memperlakukan Mariam. Menyiksa dan mencari-cari kesalahannya. Namun kondisi yang bertolak belakang dengan suasana hati Rasheed mulai merekah. Aziza justru menjadi perekat kasih sayang diantara Mariam dan Laila. Aziza seakan memiliki dua ibu yang sangat mencintainya. Mariam dan Laila. Sungguh bagaikan ibu dan anak yang tidak bisa dipisahkan. 

Hingga pada suatu hari mereka merencanakan untuk lari dari rumah, keluar dari penyiksaan-penyiksaan Rasheed. Namun sayang, mereka tertangkap oleh aparat dan mengembalikannya kepada Rasheed.

Karena peristiwa percobaan lari itu, Laila dan Mariam mendapat hukuman paling sadis yang pernah dilakukan Rasheed. Yang lebih parah tentu Mariam. Konflik kemudian memuncak, saat keuangan Rasheed morat-marit gara-gara toko sepatunya kebakaran. Hal ini memaksa mereka untuk mengirim Aziza ke sebuah panti asuhan. Laila yang pada suatu kunjungannya menjenguk Aziza di panti asuhan, ternyata dipertemukan kembali dengan cinta lamanya yang disangkanya telah mati, Tariq.

Dan Tariq adalah orang yang tepat bagi Laila untuk mengadu tentang kehidupannya yang mengenaskan. Kedekatan dua cinta lama ini membuat Rasheed geram, hingga pada suatu malam Rasheed menyiksa Laila habis-habisan, bahkan hampir membunuhnya, jika saja Mariam tidak lebih dahulu menghampiri Rasheed, dan mendaratkan sekop ke wajahnya. Rasheed tewas. Hilang sudah sumber penderitaan Mariam dan Laila.

Sungguh mudah jika mereka berdua ingin lari dan hidup bahagia. Tapi apa yang mereka lakukan selanjutnya? Di episode inilah, penulis mengakhiri semua cerita ini dengan sangat elegan.
Sekali lagi, salut untuk penulis yang telah mengetengahkan melodrama yang sangat apik, dan benar-benar mampu menyentuh sisi sensitif pembacanya. Kita tunggu saja, jika benar nantinya novel ini akan muncul pula di bioskop-bioskop, bahkan masuk pada jajaran film-film Hollywood

THE TRUE POWER OF WATER

Judul : The True Power of Water
Penulis : Masaru Emoto
Penerbit : MQ Publishing
Tahun : 2006
Genre : Pengetahuan Populer
Tebal : 192 Halaman
ISBN : 979-26-4400-8
the_true_power_of_water_260


Secara sepintas tak ada yang istimewa dari bentuk fisik air. Bentuknya cair. Bisa menjadi padat bila dibekukan. Dan menjadi gas bila diuapkan. Penelitian tentang air pun hanya sampai sebatas mengetahui massa jenis, daya apung, dan beberapa sifat kimia-fisik dari air. Sampai pada tahun 1994 seorang peneliti Jepang yang bernama Masaru Emoto menggemparkan dunia dengan hasil penelitiannya yang menyimpulkan bahwa air itu “hidup” dan memiliki “perasaan”.

Sedikit radikal memang kesimpulan ini, dan adalah bukan hal yang mudah untuk membuktikan kesimpulan ini agar diterima oleh ilmu pengetahuan konvensional. Namun faktanya, Masaru Emoto bersama rekannya (Kazuya Ishibashi, seorang ahli sains yang ahli dalam mengobservasi objek melalui mikroskop) berhasil menunjukkan bukti-bukti hasil penelitiannya kepada publik.

Bukti penelitian Masaru Emoto itu berupa gambar-gambar kristal air yang terbentuk saat sample air dibekukan pada suhu -25 derajat celcius, dan diambil gambarnya pada suhu -5 derajat celcius. Yang paling mencengangkan bukan hanya berhasil mengambil gambar kristal air untuk pertama kalinya di dunia yang karenanya Emoto mendapatkan penghargaan. Namun yang lebih fantastis adalah ditemukannya gambar kristal air yang bermacam-macam bentuk untuk setiap “informasi” yang diberikan pada sample air yang diuji.

“Informasi” yang disampaikan pada sample air tersebut ada yang berupa kata-kata maupun sekedar tulisan diatas kertas dan ditempelkan pada wadah air yang akan diuji. Untuk setiap kata-kata atau tulisan yang bernada positif (misalnya : “aku sayang”, “kamu baik”) akan dihasilkan gambar kristal air yang benar-benar hexagonal (segi enam sempurna) dengan hiasaan indah di sekelilingnya, persis seperti manik-manik perhiasan yang berkilauan. Sedangkan untuk setiap kata-kata ataupun tulisan yang bernada negatif (misalnya : “kamu jahat”, “aku benci”) akan dihasilkan gambar kristal yang berantakan, bahkan sama sekali tidak menghasikan gambar kristal air.

Buku yang pernah masuk kategori Best Seller The New York Times ini dilengkapi juga dengan gambar-gambar hasil penelitian Masaru Emoto sehingga pembaca dapat melihat sendiri perbedaan kristal-kristal air yang terbentuk. Kertas yang cukup exclusive membuat buku ini enak pula untuk dibaca, ditambah lagi dengan nuansa fullcolor.

Berdasarkan pengujian dari seorang peneliti yang sebenarnya bukan berlatar belakang pendidikan sains ini disimpulkan bahwa kata-kata paling “ajaib” yang mampu mengubah kualitas air menjadi lebih bagus sehingga menghasilkan kristal-kristal air yang paling indah adalah dua kata, yaitu “cinta” dan “terima kasih”. Semakin bagus kristal yang terbentuk, semakin bagus kualitas air tersebut.
cintadanterimakasihh
Lalu bagaimana dengan air yang ada dalam tubuh kita? Bukankah tubuh kita 70% terdiri dari air juga? Temukan korelasi pengujian sifat air tersebut dengan psikologi seseorang dalam buku ini. Dan tentunya banyak pengetahuan dan hasil temuan lain yang akan membuat pembaca terperangah membacanya. 

Namun kemudian akan meng-anggukkan kepala karena banyak kenyataan dan kesamaan fakta yang akan ditemui. Misalnya, bagaimana pengaruh musik terhadap air? bagaimana pengaruh tontonan televisi terhadap sample air? Bagaimana pula pengaruh handphone? Temukan semuanya dalam buku kecil nan exclusive ini.

Overall, buku ini sarat informasi dan pengetahuan (sains) terkini. Walaupun ada pula buku yang membantah hasil penelitian ini, tapi buktinya sampai detik ini bantahan tersebut belum mampu meruntuhkan hasil penelitian Masaru Emoto dan Kazuya Ishibashi ini. (insansains)


A Thousand Splendid Suns

Judul : A Thousand Splendid Suns
Penulis : Khaled Hosseini
Penerbit : Qanita
Tahun : 2007
Genre : Novel
Tebal : 516 Halaman
ISBN : 979-3269-68-5


A thousand splendid suns. Seribu mentari surga. Sebuah novel yang mengetengahkan konflik demi konflik seorang perempuan yang terlahir sebagai anak haram anak yang lahir dari hubungan tidak sah, yang berjuang untuk memberi makna pada hidupnya. Novel ini ditulis oleh seorang penulis yang namanya terkenal setelah karyanya yang berjudul “The Kite Runner”. Bahkan “A Thousand Splendid Suns” ini diprediksi akan mengikuti jejak pendahulunya menjadi sebuah film layar lebar di Hollywood.

Penulis novel ini sangat jeli menggambarkan detail-detail kehidupan, mulai dari pakaian, mimik muka hingga setting latar tiap episode-episode. Benar-benar memberikan gambaran yang hidup. Tak hanya itu, pilihan kata-kata yang digunakan oleh Hosseini sungguh mengagumkan, hingga mampu mengorek, mengaduk-ngaduk bahkan mengoyak-ngoyak perasaan para pembacanya. Novel setebal 516 halaman ini dirangkai secara apik. Sang penulis sangat lihai menghubungkan alur-alur cerita yang sedang berlangsung dengan cerita-cerita sebelumnya. Sehingga tidak terkesan terputus atau terlupakan begitu saja. 

Bahkan tiap kalimat yang ada pada episode-episode awal, justru dihidupkan kembali di episode selanjutnya. Bahkan menjadi pemanis saat diketengahkan kembali di episode penutup. Luar biasa. Patut diacungi jempol karena mampu menghadirkan pergolakan batin, konflik yang sedemikian rumit, dan terkesan tak ada harapan bahagia untuk si tokoh utama, namun pada akhirnya, justru semua itu diakhiri dengan secuil episode yang sangat menawan, walaupun harus berakhir haru menyedihkan.

Antara bab pertama dan bab kedua dalam novel ini, terkesan tidak ada sangkut pautnya. Tokoh utama seakang hilang tak berbekas, yang ada adalah tokoh utama kedua. Namun ternyata kedua tokoh tersebut akhirnya disatukan dalam episode-episode berikutnya dimulai dari sebuah moment yang sangat unik, tak terduga. Di novel ini pula, pembaca akan dapat melihat sebuah kesabaran tanpa batas dari seorang perempuan yang tak pernah diinginkan lahir ke dunia. Kesabaran yang harus ditebusnya dengan penderitaan tak kunjung reda sejak ia lahir ke dunia, namun akhirnya ia mendapatkan cinta dan keindahan hidup walaupun harus berakhir tragis. Jadi siapkanlah tissue yang banyak sebelum membaca novel ini.
* * *
Mariam. Seorang anak perempuan yang tak pernah diakui secara sah oleh ayahnya, Jalil. Walaupun kenyataannya mereka terikat secara batin, dan saling mengasihi layaknya ayah dan anak. Hanya saja, Jalil tak mau menunjukkannya kepada khalayak. Maka ditutupinya hubungan darahnya itu dengan memberikan Mariam dan ibunya, Nana sebuah gubuk di desa terpencil, Gul Damam. Sekali dalam sepekan Jalil secara rutin mengunjungi Mariam, dan kadang-kadang membawakan hadiah sebagai bukti sayangnya kepada Mariam.

Mariam dibesarkan ditangan seorang ibu yang tak mengijinkannya bersekolah, karena ketakutannya pada olok-olokan teman-teman Mariam kelak. Sehingga Mariam kecil tumbuh tanpa pengetahuan. Satu-satunya ilmu yang dia dapat adalah dari Mullah Faizullah, seorang kakek tua yang mengajarinya membaca Al-Quran dan sembahyang. Namun kadang-kadang ayahnya, Jalil sering pula menceritakan bagaimana kehidupan-kehidupan di kota, dan kadang membacakan kepadanya syair-syair.

Hingga pada umur 15 tahun, Mariam meminta kado kepada ayahnya agar mengajak dia menonton di bioskop miliknya bersama anak-anak Jalil yang lain. Sebuah film yang pernah ayahnya ceritakan, yaitu seorang pengrajin kayu yang mendapati boneka kayunya hidup dan dapat bergerak. Namun permintaan itu, tentu saja mendapatkan penolakan, walaupun disampaikan secara halus. Hingga akhirnya, Mariam nekad pergi sendiri ke kota dan mencari rumah pengusaha terkenal, yaitu ayahnya, Jalil.

Setelah menemukan rumah yang dimaksud sampai harus tidur di jalanan, Mariam harus kecewa untuk yang kesekian kali karena ayahnya justru menyuruh sopirnya memulangkan Mariam pulang ke Gul-Damam. Dan seketika pulang ke rumahnya, Mariam mendapati ibunya telah gantung diri karena merasa kehilangan anaknya. Tak cukup disitu saja penderitaannya berakhir, setelah beberapa hari kematian ibu kandungnya, Mariam kini dipaksa ayahnya untuk menikah dengan seorang laki-laki dari Kabul, yaitu Rasheed seorang pengusaha sepatu yang umurnya 40 tahunan.
Di rumah suaminya, selama satu tahun pertama Mariam mendapat perhatian cukup baik dari Rasheed. Namun setelah Mariam keguguran, Rasheed mulai menyiksa Mariam secara fisik. Dan kekejaman Rasheed mulai menjadi-jadi kala Mariam selama 7 kali kehamilan, maka 7 kali keguguran pula.

Konflik selanjutnya pun segera muncul. Tetangga satu blok rumahnya terkena rudal Soviet, sehingga semua penghuni rumah itu tewas, kecuali anak gadisnya yang bernama Laila. Laila kemudian dirawat oleh Mariam di rumah Rasheed. Dengan dalih ingin melindungi, Rasheed kemudian menikahi Laila. Perseteruan antara Mariam dan Laila pun mulai tumbuh dan makin menyengit dari hari ke hari. Keduanya saling melemparkan pandangan sinis ketika bertemu. Mariam merasa, Laila telah merebut suaminya, walaupun pada kenyataannya Rasheed sering menyakitinya. Di sisi lain, Rasheed tentu lebih menyayangi Laila, karena ia lebih cantik dan lebih muda tentunya. Dan kecintaan Rasheed kepada Laila makin bertambah ketika Laila mulai mengandung anaknya.

Laila pun melahirkan anak perempuan cantik, Aziza. Namun bagi Rasheed, itu adalah suatu aib. Maka sejak saat itulah Rasheed mulai memperlakukan Laila sama seperti memperlakukan Mariam. Menyiksa dan mencari-cari kesalahannya. Namun kondisi yang bertolak belakang dengan suasana hati Rasheed mulai merekah. Aziza justru menjadi perekat kasih sayang diantara Mariam dan Laila. Aziza seakan memiliki dua ibu yang sangat mencintainya. Mariam dan Laila. Sungguh bagaikan ibu dan anak yang tidak bisa dipisahkan. Hingga pada suatu hari mereka merencanakan untuk lari dari rumah, keluar dari penyiksaan-penyiksaan Rasheed. Namun sayang, mereka tertangkap oleh aparat dan mengembalikannya kepada Rasheed.

Karena peristiwa percobaan lari itu, Laila dan Mariam mendapat hukuman paling sadis yang pernah dilakukan Rasheed. Yang lebih parah tentu Mariam. Konflik kemudian memuncak, saat keuangan Rasheed morat-marit gara-gara toko sepatunya kebakaran. Hal ini memaksa mereka untuk mengirim Aziza ke sebuah panti asuhan. Laila yang pada suatu kunjungannya menjenguk Aziza di panti asuhan, ternyata dipertemukan kembali dengan cinta lamanya yang disangkanya telah mati, Tariq.

Dan Tariq adalah orang yang tepat bagi Laila untuk mengadu tentang kehidupannya yang mengenaskan. Kedekatan dua cinta lama ini membuat Rasheed geram, hingga pada suatu malam Rasheed menyiksa Laila habis-habisan, bahkan hampir membunuhnya, jika saja Mariam tidak lebih dahulu menghampiri Rasheed, dan mendaratkan sekop ke wajahnya. Rasheed tewas. Hilang sudah sumber penderitaan Mariam dan Laila. Sungguh mudah jika mereka berdua ingin lari dan hidup bahagia. Tapi apa yang mereka lakukan selanjutnya? Di episode inilah, penulis mengakhiri semua cerita ini dengan sangat elegan.

Sekali lagi, salut untuk penulis yang telah mengetengahkan melodrama yang sangat apik, dan benar-benar mampu menyentuh sisi sensitif pembacanya. Kita tunggu saja, jika benar nantinya novel ini akan muncul pula di bioskop-bioskop, bahkan masuk pada jajaran film-film Hollywood.


Judul : Ipung
Penulis : Prie GS
Penerbit : Republika
Tahun : 2008
Genre : Novel Remaja
Tebal : 194 Halaman
ISBN : -
Tunggu…. biarkan bibir ini mengembangkan senyumnya. Masih terpatri dengan pesona cerita yang dibangun budayawan nyentrik -mas Prie- dalam novel remaja ini. Satu kata, “excelent”, benar-benar luar biasa, ada rasa haru, lucu, bangga, bahagia, komplit deh. Awalnya beranggapan novel ini mirip cerita-cerita remaja ABG yang klasik dan penuh dengan roman percintaan.

Ah.. ternyata salah…! Memang bumbu percintaan itu ada di novel ini, tapi bukan hal ini yang hendak digali oleh sang penulis piawai ini. Melainkan semangat hidup yang penuh dengan pesan-pesan moral ditambah sedikit humor segar.

Kepiawaian dan keluasan pengalaman penulis pun jelas terlihat. Konflik-konflik yang dibangunnya tidak membosankan, dan apik tertata. Cukup banyak novel yang miskin konflik sehingga terasa hambar, namun ada juga yang terlalu banyak konflik sehingga terkesan berbelit-belit dan tidak tentu arah. 

Novel ini bisa dibilang benar-benar pas. Mantap. Tak hanya itu, jarang ada novel yang mampu menjaga dan mengembangkan karakter-karakter pemainnya. Novel berjudul Ipung ini benar-benar memperhatikan hal tersebut. Pembaca akan melihat dengan jelas karakter-karakter lain selain Ipung dan Paulin, seperti : Pak Bakri, Marjikun, Pak Bahrun dan Surtini benar-benar dijaga dengan baik.
Dalam segi bahasa, jelas tidak perlu diragukan lagi kualitas novel ini. Seperti hal-nya tulisan-tulisan Mas Prie yang lain, semuanya serba sederhana, tapi menyelipkan makna yang dalam. Tak salah bila kemudian di halaman awal dihadirkan prolog dari penulis yang namanya melejit dengan novel “Ayat-Ayat Cinta”nya, Habiburrahman El-Shirazy. Dalam sisi design cover pun, cukup menarik dan menggambarkan isi cerita novelnya.

Tokoh utama itu sendiri bernama Ipung, seorang anak kampung. Dan mungkin sedikit kampungan. Yang terbawa nasib baik untuk sekolah di sekolah favorite, SMA Budi Luhur, bahkan lebih dari itu, anak ceking dan terkesan acak-acakan ini masuk pula ke dalam kelas unggulan. Ya.. kelas unggulan, bukan kelas biasa. Sebuah gengsi tersendiri tentunya, bukan hanya bagi anak kampung seperti Ipung ini. Tapi benarkah prestasi ini didapat hanya karena nasib baiknya?

Karakter Ipung mampu menyihir pembacanya untuk diam-diam mengidolakan kehadiran remaja seperti ini. Apakah remaja seperti Ipung benar-benar ada? Seorang remaja yang dekat dan berbaur dengan kemiskinan. Seorang remaja yang bentuk fisiknya tidak terlalu menarik. Badan yang kurus ceking, wajah yang tidak cukup untuk dibilang ganteng, namun salah bila dibilang jelek, pas-pas-an lah. Tapi ternyata dibalik kemiskinan dan segala kekurangannya itu, Ipung tidak pernah merasa rendah diri, tidak pernah merasa minder untuk mengakuinya. Baginya tak ada beda, kaya atau miskin, ganteng atau jelek, yang ada adalah dia harus berjuang memberikan yang terbaik.

Aura inilah yang ternyata memberikan Ipung kekuatan untuk menyihir karakter-karakter lain dalam cerita ini untuk tidak mungkin bila tidak mengagumi Ipung. Tak terkecuali, gadis primadona SMA Budi Luhur tersebut, Paulin. Entah setan apa yang merasuki Paulin, hingga gadis secantik dia, punya orang tua kaya raya, mau-maunya mengejar si kerempeng Ipung habis-habisan.

Tak hanya gadis primadona yang berhasil Ipung sihir, guru tergalak di SMA itu pun luluh dengan kecerdikan dan sikap polos nan tenang Ipung. Nama Ipung justru makin meroket, mengalahkan popularitas nama sekolah unggulan itu sendiri. Ipung masuk majalah remaja populer, lebih dari itu Ipung diterima menjadi reporter majalah MM. Dari kegiatan sebagai reporter inilah Ipung akhirnya bisa membiayai sekolahnya sendiri, bahkan mengirimkan wesel untuk orang tuanya.

Dan juga tak usah heran, bila akhirnya beberapa temannya ada yang merasa iri. Bahkan menghasut teman-teman yang lainnya untuk mempermalukan Ipung di depan umum. Tapi sekali lagi pembaca akan dibuat tersentak dan mungkin akan menitikkan air mata bangga ketika sang Ipung di tengah pengadilan massal, dipermalukan sejadi-jadinya di depan 200 atau 300-an siswa lainnya, diantara rasa marah, malu dan sedih, Ipung akhirnya mampu menguasai keadaan dan membuat lawan yang membencinya menjadi sayang, dan membuat kawan yang mengaguminya makin mencintai keberadaannya.

RANAH 3 WARNA

Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.
Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah?
Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya: “Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini? Hampir saja dia menyerah.
Rupanya man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat  kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya?
Kemana nasib membawa Alif? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu? Siapakah Raisa? Bagaimana persaingannya dengan Randai? Apa kabar Sahibul Menara? Kenapa sampai muncul Obelix, orang Indian dan Michael Jordan dan Ksatria Berpantun? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh?
Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa. Tuhan bersama orang yang sabar.

Di Bawah Lindungan Ka'bah




18 Agustus 2011

Sinopsis Novel "Di Bawah Lindungan Ka’bah" karya Hamka

Ditulis oleh Yadi Karnadi Kamis, Agustus 18, 2011, Kategori 6 komentar |


Pacar Terpisah Tembok

Hamid adalah seorang anak yatim dan miskin. Dia kemudian diangkat oleh keluarga Haji Jafar yang kaya-raya. Perhatian Haji Jafar dan istrinya, Asiah, terhadap Hamid sangat baik. Hamid dianggap sebagai anak mereka sendiri, Mereka sangat menyayanginya sebab Hamid sangat rajin, sopan, berbudi, serta taat beragama. Itulah sebabnya, Hamid juga disekolahkan bersama-sama dengan Zainab, anak kandung Haji Jafar di sekolah rendah.

Hamid sangat menyayangi Zainab. Begitu pula dengan Zainab. Mereka sering pergi sekolah bersama-sama, bermain bersama-sama di sekolah ataupun pulang sekolah. Ketika keduanya beranjak remaja, dalam hati masing-masing mulai tumbuh perasaan lain. Suatu perasaan yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Hamid merasakan bahwa rasa kasih sayang yang muncul terhadap Zainab melebihi rasa sayang kepada adik, seperti yang selama ini dia rasakan. Zainab juga ternyata mempuanyai perasaan yang sama seperti perasaan Hamid. Perasaan tersebut hanya mereka pendam di dalam lubuk hati yang paling dalam. Hamid tidak berani mengutarakan isi hatinya kepada Zainab sebab dia menyadari bahwa di antara mereka terdapat jurang pemisah yang sangat dalam. Zainab merupakan anak orang terkaya dan terpandang, sedangkan dia hanyalah berasal dari keluarga biasa dan miskin. Jadi, sangat tidak mungkin bagi dirinya untuk memiliki Zainab. Itulah sebabnya, rasa cintanya yang dalam terhadap Zainab hanya dipendamnya saja.


Jurang pemisah itu semakin hari semakin dirasakan Hamid. Dalam waktu bersamaan, Hamid mengalami peristiwa yang sangat menyayat hatinya. Peristiwa pertama adalah meninggalnya Haji Jafar, ayah angkatnya yang sangat berjasa menolong hidupnya selama ini. Tidak lama kemudian, ibu kandungnya pun meninggal dunia. Betapa pilu hatinya ditinggalkan oleh kedua orang yang sangat dicintainya itu. Kini dia yatim piatu yang miskin. Sejak kematian ayah angkatnya, Hamid merasa tidak bebas menemui Zainab karena Zainab dipingit oleh mamaknya.


Puncak kepedihan hatinya ketika mamaknya, Asiah, mengatakan kepadanya bahwa Zainab akan dijodohkan dengan pemuda lain, yang masih famili dekat dengan almarhum suaminya. Bahklan, Mak Asiah meminta Hamid untuk membujuk Zainab agar mau menerima pemuda pilihannya.


Dengan berat hati, Hsmid menuruti kehendak Mamak Asiah. Dengan berat hati, Hamid menuruti kehendak Mamak Asiah. Zainab sangat sedih menerima kenyataan tersebut. Dalam hatinya, ia menolak kehendak mamaknya. Karena tidak sanggup menanggung beban hatinya, Hamid memutuskan untuk pergi meninggalkan kampungnya. Dia meninggalkan Zainab dan dengan diam-diam pergi ke Medan. Sesampainya di Medan, dia menulis surat kepada Zainab. Dalam suratnya, dia mencurahkan isi hatinya kepada Zainab. Menerima surat itu, Zainab sangat terpukul dan sedih. Dari Medan, Hamid melanjutkan perjalanan menuju ke Singapura. Kemudian, dia pergi ke tanah suci Mekah.


Selama ditinggalkan oleh Hamid, hati Zainab menjadi sangat tersiksa. Dia sering sakit-sakitan, semangat hidupnya terasa berkurang menahan rasa rindunya yang mendalam pada Hamid. Begitu pula dengan Hamid, dia selalu gelisah karena menahan beban rindunya pada Zainab. Untuk membunuh kerinduannya, dia bekerja pada sebuah penginapan milik seorang Syekh. Sambil bekerja, dia terus memperdalam ilmu agamanya dengan tekun.


Setahun sudah Hamid berada di Mekah. Ketika musim haji, banyak tamu menginap di tempat dia bekerja. Di antara para tamu yang hendak menunaikan ibadah haji, dia melihat Saleh, teman sekampungnya. Betapa gembira hati Hamid bertemu dengannya. Selain sebagai teman sepermainannya amsa kecil, istri Saleh Rosana adalah teman dekat Zainab. Dari Saleh, dia mendapat banyak berita tentang kampungnya termasuk keadaan Zainab.


Dari penuturan Saleh, Hamid mengetahui bahwa Zainab juga mencintainya. Sejak kepergian Hamid, Zainab sering sakit-sakitan. Dia menderita batin yang begitu mendalam, Karena suatu sebab, dia tidak jadi menikah denganpemuda pilihan mamaknya, sedangkan orang yang paling dicintainya, yaitu Hamid telah pergi entah kemana. Dia selalu menunggu kedatangan Hamid dengan penuh harap.

Totto Chan

Judul: Totto chan Gadis Cilik di Jendela
Penerbit: Gramedia Pustaka
Pengarang: Tetsuko Kuroyanagi
Tahun Terbit: 2003
Halaman: 272


Guru-guru di sekolah , menganggap Totto-chan nakal . Padahal

gadis cilik periang itu hanya memiliki keingin tahuan yang besar.
Totto-chan pun dikeluarkan dan sekolah dengan alasan selalu membuat keributan di kelas . Seperti memanggil para pemusik
jalanan yang langsung membuat para murid ribut , hingga masalah
laci Totto-chan yang selalu dibuka ratusan kali dan ditutup dengan
cara dibanting.

Mama tak bisa berbuat apa-apa selain menyekolahkan anaknya

ke sekolah lain tanpa memberitahu apa yang terjadi padanya . Mama
pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen . Totto-chan
senang sekali , di sekolah itu para murid belajar didalam gerbong
kereta sebagai pengganti ruang kelas . Ia bisa belajar sambil melihat
ke halaman seolah-olah sedang melakukan perjalanan naik kereta.

Di sekolah Tomoe , para murid bebas memilih urutan pelajaran

yang mereka sukai - Kepala sekolah juga menetapkan makan siang dengan membawa sesuatu dari laut dan sesuatu dari gunung. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan

Hari demi hari dilewati

Totto-chan dengan
kegembiraan dan penistiwa
yang tak terduga. Sampai
sampai, ia juga anak iainnya
tak menyadari bahwa Perang
Pasifik sudah pecah - Sampai
kemudian , perang dan segala kengeriannya telah mulai
terasa di kehidupan Totto
- chan dan keluarganya - Setiap
hari , pana pria dan pemuda di
sekitar tempat
dikirim pergi untuk berperang.

Hingga beberapa hari

kemudian , Tomoe terbakar!
Semuanya terjadi pada malam
hari . Banyak bom yang
dijatuhkan pesawat B29

menimpa gerbong-gerbong keias . Sekolah Tomoe sudah tak ada. Api berkobar menghancurkan semuanya . Totto-chan tak pernah

tahu bagaimana perasaan kepala sekolah saat melihatnya , tapi yang ia tahu hatinya merasa sesak saat tahu keinginannya untuk menjadi
guru di Tomoe teiah hancur.

Sinopsis novel : Totto chan - Gadis Cilik di Jendela-novel-jpgAttached Thumbnails

Celine Dion- Don't Pity Me

(Eddy Marnay / S. Thompson)

Je sais qu'il me traite

Comme il traite les autres
On dirait presque
Qu'il ne m'aime pas
Quand vous me dites
Tu devrais t'en aller
Mêm'si c'est vrai
Ça ne m'aide pas
Je comprends vos raisons
Vous voyez sûr'ment mieux que moi
Oui mais

(I know he's treating me

Like he treats all the others
We could almost think
That he doesn't love me
When you're telling me
You should go
Even if it's true
That doesn't help me
I understand your reasons
You surely see better than I do
Yes but)

Ne me plaignez pas

Ma vie est plutôt belle
Et quand ça ne va pas
Tous mes amis m'appellent
Je vous remercie
De votre sympathie
Non ne me plaignez pas
Mais restez là

(Don't pity me

My live is rather beautiful
And when it goes wrong
All my friends all calling me
I thank you
For your sympathy
No, don't pity me
But stay there)

Quand je suis seule

Je suis bien dans ma chambre
Avec un livre
Ou un film ancien
Et pour ma fête
Si c'est vrai qu'il m'oublie
J'ai vos cadeaux
Pour me chauffer le coeur

(When I'm alone

I'm happy in my room
With a book
Or an old movie
And for my birthday
If it's true he forgets me
I have your gifts
To heat my heart)

Oui... ne me plaignez pas

Ma vie est plutôt belle
Et quand ça ne va pas
Tous mes amis m'appellent
Je vous remercie
Pour votre sympathie
Non ne me plaignez pas
Mais restez là

(Yes... don't pity me

My live is rather beautiful
And when it goes wrong
All my friends all calling me
I thank you
For your sympathy
No, don't pity me
But stay there)

Je comprends vos raisons

Vous voyez sûr'ment mieux que moi
Pourtant...

(I understand your reasons

You surely see better than I do
But... )

Ne me plaignez pas

Ma vie est plutôt belle
Et quand ça ne va pas
Tous mes amis m'appellent
Je vous remercie
De votre sympathie
Non ne me plaignez pas
Mais restez là

(Don't pity me

My live is rather beautiful
And when it goes wrong
All my friends all calling me
I thank you
For your sympathy
No, don't pity me
But stay there)

Akhi, Calon istri seperti apa yang Engkau Cari?

Untuk segala sesuatu, Allah swt telah menciptakan berpasang-pasangan. Tumbuhan, pepohonan, bunga-bunga, Allah swt ciptakan dengan keserasian dan keseimbangan. Binatang-binatang memiliki pasangan dari jenisnya, dimana mereka bisa saling melengkapi satu dengan yang lainnya dan bisa mengembangbiakkan keturunan.

Demikian pula manusia, Allah swt menciptakan manusia dengan bentuk yang sangat indah, dan untuk mereka Allah ciptakan pasangannya. Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya dengan perasaan dan kecenderungan alamiyahnya perempuan merasakan kesenangan tatkala didekati laki-laki.

 

Allah SWT berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang” (QS. Ali Imran: 14).
Untuk merealisasikan ketertarikan tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar dan manusiawi, Islam datang dengan membawa ajaran pernikahan. Sebuah ajaran suci yang menampik kehidupan membujang di satu sisi, namun juga menampik kebebasan interaksi laki-laki dan perempuan di sisi yang lain. Nikah adalah jalan tengah yang membentang antara dua ekstrem tersebut.
Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya. Dalam memilih jodoh, pikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan calon jodoh tersebut, dipertimbangkan juga kemaslahatan secara luas. Selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah: apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? Walaupun dalam hadits Rasulullah SAW jelas disebutkan bahwa dalam memilih istri hendaknya mengutamakan akhlak dan agamanya, namun kenyataannya sekarang banyak ikhwan yang lebih mendahulukan kecantikan dibanding agama. Apakah memilih wanita cantik dilarang? Tidak. Itu juga sah-sah saja. Namun hendaknya kriteria cantik ini tidak membuat kita lupa akan kriteria akhlak dan agamanya.
Mari saya beri contoh berikut. Diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap nikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula dengan tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian usia berusia 25 hingga 30 tahun, dan yang lainnya dibawah 25 tahun. Mereka ini siap menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai ibu di rumah tangga.
Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang akan anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih?
Ternyata anda memilih si A, karena ia memenuhi kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, pandai dan usia masih muda 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda ini salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah! Anda telah memilih calon istri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasullah saw bertanya kepada Jabir ra:
Mengapa tidak (menikah) dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra: “Wahai Rasullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan persoalan tersebut”, kata Jabir, “Benar katamu”, jawab Rasullah.
Jabir tidak hanya berpikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan apabila menikahi gadis perawan.
Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon istrinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia lima tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau diatas 30 tahun, atau bahkan diatas 35 tahun?
Cantik Tapi…
Sebagaimana yang sudah kita dengar dan baca, bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Terlebih lagi wanita yang telah Allah ciptakan dalam keadaan bengkok. Secara kodrat, mereka lebih banyak kekurangan dan kelemahan dibandingkan pria, sebagaimana sabda Rasullah, “…Tidaklah aku melihat orang yang kurang akal dan kurang agama lagi potensial melemahkan laki-laki yang kuat selain salah seorang dari kalian (para wanita)…” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hal demikian menuntut para lelaki untuk lebih banyak mengerti wanita, juga lebih bisa memahami kekurangan mereka. Menyangkut kekurangan ini, bukanlah hal yang aneh bila ada wanita yang secara fisik cantik tapi pemboros, atau abid (ahli ibadah) tapi tak bisa memasak, atau ahli memasak tapi pencemburu berat, dan lainnya. Yang demikian itu adalah biasa. Hampir terjadi dan ada pada setiap wanita.
Bagi anda para bujangan, wanita mana yang akan kau pilih, semua tergantung pada anda. Pada dasarnya ini menyangkut kriteria utama anda yang anda tetapkan dan kekurangan-kekurangan yang masih bisa anda toleransi. Tentunya setiap ikhwan berbeda-beda satu ikhwan mungkin menjadikan kecantikan sebagai standar utama, tak peduli bisa masak atau tidak, sementara ikhwan lain mugkin lebih mengutamksn ibadahnya dan tak peduli kekurangan–kekurangan yang lainnya, dan seterusnya. Yang jelas tak ada wanita di dunia ini yang sempurna seratus persen. Pasti ada saja kekurangannya. Ini hal pertama yang hendaknya dipahami betul.
Kalau Bisa Seperti Nabi…
Kalau kita sedikit menengok sejarah nabi, bagaimana beliau memperistri wanita atau kriteria wanita atau kriteria yang ditetapkan oleh beliau bagi wanita yang menjadi isterinya, maka akan kita dapati nabi lebih mengutamakan agama dan akhlaknya dibanding fisiknya. Itupun masih didasari pada manfaaat dan madharatnya bagi perkembangan Islam. Itulah mengapa Rasulullah hanya menikahi satu wanita yang masih perawan, yaitu Aisyah ra. Sedangkan yang lainnya para janda yang pada umumnya sudah tua. Pelajaran yang bisa kita ambil dari pernikahan Rasulullah ini, bahwa agama hendaknya dijadikan patokan utama dalam memilih seorang wanita, agar nantinya rumah tangga bahagia dunia dan akhirat.
Bagi para Akhwat yang belum memiliki suami, semestinya anda terus menggali potensi untuk meningkatkan kualitas diri. Adapun tuntunan dari Rasulullah agar menjadi seorang wanita pilihan:
1. Taat
Seorang gadis yang biasanya taat kepada orang tua, akan mudah taat pada suami ketika menikah nanti.
2. Enak Dipandang
Tidak harus cantik, dengan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya seorang wanita akan membuat senang suaminya.
3. Cinta dan Pasrah
Seorang pria tentu berharap mendapat seorang istri yang mampu mencintai sepenuh hati dan bersikap pasrah. Wanita yang dalam berbuat dan bertingkah laku selalu berupaya menyenangkan suami dam menjauhi hal-hal yang mendatang kebenciannya.
4. Suka membantu 
Wanita shalihah adalah yang selalu mengajak suaminya pada kebaikan agama dan dunianya. Bukannya memberatkan, namun justru mengingatkan suami untuk selalu berlaku taat pada Allah SWT, serta memberikan saran dan pendapat demi kemajuan sang suami.
Walaupun kita tidak mendapatkan pasangan ketika di dunia, tetapi kalau kita ahli ibadah Insya Allah akan mendapatkan pasangan ketika di akhirat kelak. Amien…