Tampilkan postingan dengan label A Warming Heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Warming Heart. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2011

TERUNTUK AYAHKU

Ayah.....
aku masih fiah,putri kecil ayah yang dulu..
aku masih ingin ayah peluk,ingin ayah manja..
Ayah....
banyak hal yang sudah aku lalui...
banyak kerikil yang pernah menyakiti perjalanan hidupku....
banyak orang yang pernah mencibirku...
tapi kau slalu ada untukku,
tetap merangkulku,seolah menyemangatiku dalam keputus asaanku..

Ayah...
sekarang aku semakin dewasa...
perlahan-lahan aku semakin jauh darimu...
kita dihalangi pulau yang luas...
menbuatku takut sesuatu terjadi padamu..

Ayah.....
disini aku sering menangis merindukanmu...
mengingat saat kau hampir tak pernah menolak keinginanku...
meski yang kuminta terlalu berlebihan..
tapi kau tak sampai hati melihatku sedih...
Ayah....
aku akan menuruti kamauanmu....
menjadi putri terbaik yang takkan menyia-nyiakanmu..
aku akn jadi tongkatmu di masa tua nanti...
dan takkan kubiarkan seorang pun yang menyakitimu....

Ayah...
kau laki-laki yang paling aku sayangi....
tak ada alasan untukku menyakitimu...
aku akan jadi kakak yang baik untuk adik-adik...

I am Promise, Dad......

Akhi, Calon istri seperti apa yang Engkau Cari?

Untuk segala sesuatu, Allah swt telah menciptakan berpasang-pasangan. Tumbuhan, pepohonan, bunga-bunga, Allah swt ciptakan dengan keserasian dan keseimbangan. Binatang-binatang memiliki pasangan dari jenisnya, dimana mereka bisa saling melengkapi satu dengan yang lainnya dan bisa mengembangbiakkan keturunan.

Demikian pula manusia, Allah swt menciptakan manusia dengan bentuk yang sangat indah, dan untuk mereka Allah ciptakan pasangannya. Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya dengan perasaan dan kecenderungan alamiyahnya perempuan merasakan kesenangan tatkala didekati laki-laki.

 

Allah SWT berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang” (QS. Ali Imran: 14).
Untuk merealisasikan ketertarikan tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar dan manusiawi, Islam datang dengan membawa ajaran pernikahan. Sebuah ajaran suci yang menampik kehidupan membujang di satu sisi, namun juga menampik kebebasan interaksi laki-laki dan perempuan di sisi yang lain. Nikah adalah jalan tengah yang membentang antara dua ekstrem tersebut.
Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya. Dalam memilih jodoh, pikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan calon jodoh tersebut, dipertimbangkan juga kemaslahatan secara luas. Selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah: apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? Walaupun dalam hadits Rasulullah SAW jelas disebutkan bahwa dalam memilih istri hendaknya mengutamakan akhlak dan agamanya, namun kenyataannya sekarang banyak ikhwan yang lebih mendahulukan kecantikan dibanding agama. Apakah memilih wanita cantik dilarang? Tidak. Itu juga sah-sah saja. Namun hendaknya kriteria cantik ini tidak membuat kita lupa akan kriteria akhlak dan agamanya.
Mari saya beri contoh berikut. Diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap nikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula dengan tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian usia berusia 25 hingga 30 tahun, dan yang lainnya dibawah 25 tahun. Mereka ini siap menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai ibu di rumah tangga.
Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang akan anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih?
Ternyata anda memilih si A, karena ia memenuhi kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, pandai dan usia masih muda 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda ini salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah! Anda telah memilih calon istri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasullah saw bertanya kepada Jabir ra:
Mengapa tidak (menikah) dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra: “Wahai Rasullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan persoalan tersebut”, kata Jabir, “Benar katamu”, jawab Rasullah.
Jabir tidak hanya berpikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan apabila menikahi gadis perawan.
Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon istrinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia lima tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau diatas 30 tahun, atau bahkan diatas 35 tahun?
Cantik Tapi…
Sebagaimana yang sudah kita dengar dan baca, bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Terlebih lagi wanita yang telah Allah ciptakan dalam keadaan bengkok. Secara kodrat, mereka lebih banyak kekurangan dan kelemahan dibandingkan pria, sebagaimana sabda Rasullah, “…Tidaklah aku melihat orang yang kurang akal dan kurang agama lagi potensial melemahkan laki-laki yang kuat selain salah seorang dari kalian (para wanita)…” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hal demikian menuntut para lelaki untuk lebih banyak mengerti wanita, juga lebih bisa memahami kekurangan mereka. Menyangkut kekurangan ini, bukanlah hal yang aneh bila ada wanita yang secara fisik cantik tapi pemboros, atau abid (ahli ibadah) tapi tak bisa memasak, atau ahli memasak tapi pencemburu berat, dan lainnya. Yang demikian itu adalah biasa. Hampir terjadi dan ada pada setiap wanita.
Bagi anda para bujangan, wanita mana yang akan kau pilih, semua tergantung pada anda. Pada dasarnya ini menyangkut kriteria utama anda yang anda tetapkan dan kekurangan-kekurangan yang masih bisa anda toleransi. Tentunya setiap ikhwan berbeda-beda satu ikhwan mungkin menjadikan kecantikan sebagai standar utama, tak peduli bisa masak atau tidak, sementara ikhwan lain mugkin lebih mengutamksn ibadahnya dan tak peduli kekurangan–kekurangan yang lainnya, dan seterusnya. Yang jelas tak ada wanita di dunia ini yang sempurna seratus persen. Pasti ada saja kekurangannya. Ini hal pertama yang hendaknya dipahami betul.
Kalau Bisa Seperti Nabi…
Kalau kita sedikit menengok sejarah nabi, bagaimana beliau memperistri wanita atau kriteria wanita atau kriteria yang ditetapkan oleh beliau bagi wanita yang menjadi isterinya, maka akan kita dapati nabi lebih mengutamakan agama dan akhlaknya dibanding fisiknya. Itupun masih didasari pada manfaaat dan madharatnya bagi perkembangan Islam. Itulah mengapa Rasulullah hanya menikahi satu wanita yang masih perawan, yaitu Aisyah ra. Sedangkan yang lainnya para janda yang pada umumnya sudah tua. Pelajaran yang bisa kita ambil dari pernikahan Rasulullah ini, bahwa agama hendaknya dijadikan patokan utama dalam memilih seorang wanita, agar nantinya rumah tangga bahagia dunia dan akhirat.
Bagi para Akhwat yang belum memiliki suami, semestinya anda terus menggali potensi untuk meningkatkan kualitas diri. Adapun tuntunan dari Rasulullah agar menjadi seorang wanita pilihan:
1. Taat
Seorang gadis yang biasanya taat kepada orang tua, akan mudah taat pada suami ketika menikah nanti.
2. Enak Dipandang
Tidak harus cantik, dengan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya seorang wanita akan membuat senang suaminya.
3. Cinta dan Pasrah
Seorang pria tentu berharap mendapat seorang istri yang mampu mencintai sepenuh hati dan bersikap pasrah. Wanita yang dalam berbuat dan bertingkah laku selalu berupaya menyenangkan suami dam menjauhi hal-hal yang mendatang kebenciannya.
4. Suka membantu 
Wanita shalihah adalah yang selalu mengajak suaminya pada kebaikan agama dan dunianya. Bukannya memberatkan, namun justru mengingatkan suami untuk selalu berlaku taat pada Allah SWT, serta memberikan saran dan pendapat demi kemajuan sang suami.
Walaupun kita tidak mendapatkan pasangan ketika di dunia, tetapi kalau kita ahli ibadah Insya Allah akan mendapatkan pasangan ketika di akhirat kelak. Amien…

DAKWAH adalah CINTA

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga.

Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang. Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik?

Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak! Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani, justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana.
Pun mereka pergi, akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.

Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman.

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang. “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta.
Mengajak kita untuk terus berlari.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satu harus mengalah.

[ Dikutip dari Ceramah di Pengajian ]

TUHAN, JENGUKLAH PERASAAN KAMI..


-TUHAN, Jenguklah perasaan kami-


“Ini terlalu berat untukku, Mas..”
Mas Gilang memegang kembali tanganku, dia menatapku dengan mata yang sejak semalam sembab.
“Kau telah mengatakan itu berkali- kali, Ra. Kita harus menyabarkan diri, meletakkan keimanan itu di tempat yang lebih tinggi. Dia tidak mencuri, dia mengambil milikNya” Mas Gilang menyentuh pipiku.
“Tapi kita sudah menjaganya dengan sangat baik. Kau lihat kan Mas, aku rutin meminum susu hamil itu, aku mendadak vegetarian demi kesehatan bayi kita- walaupun ketika makan sayur, rasanya aku mau meledak. Aku selalu menandai tanggal check up ke dokter di kalender kamar kita, dan aku sudah merajut banyak kaos kaki untuknya. Lihat, Tuhan mengambilnya tiba- tiba. Setelah kita persiapkan segalanya. Ini melukaiku, Mas..”
Aku membuang tangan Mas Gilang dari atas pipiku.

Perasaan ini tidak akan ada yang mengerti, Bahkan suamiku sekalipun. Dia tidak tahu betul bagaimana rasanya ketika perutku mulai membesar, dia tidak tahu rasanya bagaimana otot- ototku menahan bayiku setiap kali aku berjalan- seakan aku bicara pada lantai “Jangan minta aku untuk jatuh”.
Mas Gilang menatapku, lalu menatap selang infus yang tersambung ke pergelangan tanganku.
“Berhentilah menangis Sayang. Air matamu jika habis, aku tidak tahu kemana akan membelinya. Tuhan sedang memandangmu, tidakkah kau malu karena menggerutu atas takdir yang dibuatNya? Menyesal kah kau karena Anak kita diambilNya dalam keadaan suci?” Mas Gilang mendekatkan tubuhnya ke sisi kananku.
“Tapi Mas, harusnya aku merawatnya dulu. Membesarkannya dan mendidiknya dengan Ilmu Agama yang sudah kita pelajari”
“Maukah kau mendengar cerita tentang Anak- anak di Syorga?”
Aku menggeleng. “Tidak, Mas sudah menceritakannya hampir setiap malam. Aku sudah hapal ceritanya”
“Kali ini beda, Sayang. Ada Anak pendatang baru. Anak yang disambut dengan penuh suka cita- Anak itu tampak bahagia disana”
“Apakah dia Anak kita?”
“Ya, Ra. Dia anak kita. Anak yang baru pergi dari kita. Apakah kau masih akan menyesali kepergiannya, sementara dia pergi ke tempat paling menawan?”
“Harusnya dia bersamaku, Ibunya. Dia disini bersama kita, Mengenakan Kaos kaki rajutanku dan tidur di tengah- tengah kita”
Mas Gilang menunduk. Begitu dalam. Kami tenggelam dalam sebuah rasa yang begitu rumit dan mematikan hati. Sebelum ini terjadi, Aku mampu melewati berbagai Uji Coba yang diberikan Tuhanku, Aku kerap menasihati suamiku untuk bersabar ketika usaha yang dirintisnya bersama rekan- rekannya justru berbuah rugi. Aku selalu bisa membesarkan hatinya ketika dia tidak bisa memberiku hadiah di hari ulang tahunku. Namun kali ini aku sudah lupa bagaimana rasanya bersabar dan berfikir jernih, ketika aku kehilangan nyawa yang kususun dan kupintal di dalam diriku sendiri.
“Jangan menangis lagi, Tolong…..” Aku merasakan tangan yang hangat kembali mendekap pipiku. Ketika Mas Gilang mengatakannya, aku melihat air mata tertahan di ujung matanya.
“Kau terlalu sering menangisi ini, Ra. Kita terlalu larut dalam musibahnya dan meminggirkan hikmahnya.

Kita hentikan saling menangisi ini, Anak kita telah terpilih untuk menjadi penghuni syorga, dia tidak perlu menjadi pemeran dalam kehidupan yang penuh dengan kekonyolan ini. Tidakkah kau bangga menjadi orangtua yang berhasil menghantarkan anakmu tepat di sisiNya?”
“Lalu pada siapa kita akan memberikan nama- nama bagus yang kita rangkai selama ini?”
“InsyaAllah, kau akan diberikan Anak tampan dan Jelita lagi. Sudahi air matamu, kemasilah kesedihanmu dan ubah menjadi kekuatan. Kelak kau akan lebih menjadi seorang Ibu yang luar biasa. Kehilangan Bayi akan membuatmu sangat berhati- hati dalam menjaga anak- anakmu kelak. Percayalah, Kau adalah wanita yang di pilih untuk merasakan ini, Ira”
“Seandainya ya Mas, dulu aku mendengarkan perkataan tetangga”
“Mereka mengatakan apa?”
Aku menunduk, melihat perutku yang sudah mengecil, Namun aku tidak mendapatkan apa- apa kecuali cerita suamiku. Bahwa Aku telah menghantarkan anakku ke sisiNya dengan sangat tepat.
“Tetangga bilang apa, Ra?”
“Sewaktu aku mengandung, mereka mengingatkanku supaya tidak makan dengan piring sumbing dan tidak duduk di depan pintu. Dan satu lagi, tidak boleh membunuh hewan. Bukankah Mas Gilang sering membunuh tikus ketika aku hamil? Kalau saja itu tidak kita lakukan…….”
Mas Gilang tampak terkejut.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Mitos- mitos itu, Ra. Kelahiran dan Kematian itu sudah jelas ditakdirkan olehNya. Bukan karena kau makan dengan piring sumbing atau aku yang membunuh tikus. Ini takdir. Sudahi semua ini, Aku tidak suka melihatmu kehilangan iman seperti ini”
“Mas..”
“Aku bilang sudahi, Ira”
“Aku hanya ingin memintamu membuatkan Susu dan mengambilkan suplemen itu untukku, Mas”
“Kau sudah tidak membutuhkan itu lagi, Kau sudah tidak hamil. Ra, besok kita akan pulang, untuk sementara kau tinggal di rumah ibumu dulu. Biar aku mengurus semua pembayaran dan melihat keuntungan usaha yang sudah aku tinggalkan beberapa hari ini”
****
Pagi itu, seperti didorong gelombang tepat di punggungku dan isi perut yang hampir meledak, aku melarikan diri ke kamar mandi. Setelah merasa memuntahkan banyak hal- aku tidak tahu apa, tiba- tiba aku merasa pengelihatanku kabur. Aku masih sempat mencari pegangan, namun aku sudah merasa tubuhku berpelukan dengan lantai.
“Ra…” Suara itu begitu dekat denganku, dengan Jiwaku.
“Kau sudah sadar, Sayang. Kau tidak apa- apa kecuali satu hal. Ohya, Kau masih ingat dengan Bu Ranti? Dia dokter yang merawatmu di rumah sakit ketika kau keguguran bulan lalu”
Aku memandang wanita itu, dia tersenyum seakan menyimpan banyak kata untuk diucapkannya. Aku mengangguk pelan.
“Kau tahu Ra, Pagi ini ada calon bayi dalam perutmu..” Ucap Mas Gilang sekenanya dan Aku mendadak merasa ingin mengeluarkan semua air mataku dan suaraku.
“Alhamdulillaah..Kau sungguh beruntung....”
Aku menarik Mas Gilang ke pelukanku dan menangis sejadi- jadinya disana. 

“Terima Kasih Tuhan, Kau telah menjenguk perasaan kami” Ucapku mirip seperti bisikan.

Keesokan harinya, Aku melihat sesuatu yang berbeda di dapurku. Ketika aku amati, ternyata Ya Tuhan……….. semua piring sumbing diganti dengan yang baru, lobang got sudah ditutup rapat dengan batu sehingga tikus-tikus tidak akan masuk rumah kami.

Aku langsung menyadari bahwa siapa lagi yang melakukannya jika bukan Kekasih hatiku itu, Aku langsung mencarinya. Aku tidak menemukannya di segala penjuru rumah. Ketika aku akan membuka pintu dan mencarinya di luar, aku sudah menangkap sosoknya di seberang jalan. Mengenakan jacket hitamnya, dengan gagahnya dia berjalan ke arahku- tidak lupa dengan senyumannya yang sejak setahun lalu telah membuatku jatuh hati padanya.
“Lihat, aku membawakanmu Rujak” Mas Gilang mengeluarkan rujak dari kantong dalam jacketnya.
“Mas………” aku hampir menjerit.
“Aku mendengar dari teman- temanku, katanya kau pasti akan meminta ini di tengah malam nanti. Jadi aku belikan sekarang saja”
Aku tertawa dan kontan meraih tangannya lalu menyalamnya.
“Terima Kasih untuk segalanya, Mas. Ini berlebihan..” Kataku dengan hati yang begitu mengangkasa.
Alhamdulillaah…..
::: SSH. Di Kamar Kost :::

Jumat, 31 Juli 2009

KUBERIKAN KESEMPATAN [ lagi] UNTUK CINTA

 
KUBERIKAN KESEMPATAN (lagi) UNTUK CINTA


                  Penulis : Siti Sofiah Hasan Hasibuan

Aku dianiaya seniorku. Dengan tubuh basah kuyup, aku dipaksa mengikrarkan dasa dharma di atas sebuah batu besar. Aku sudah lebih dari lima kali menangis sejak mereka mencubit, mempermalukan hingga mengancamku. Aku merasa tidak memiliki salah apapun. Karena di acara Ospek seperti ini, tidak butuh kesalahan yang dilakukan junior, senior selalu merasa berhak mencincang anak-anak bau kencur sepertiku.

Bersama beberapa temanku, kami disuruh berdiri diatas lumpur yang hampir menenggelamkan betis.
Seorang senior cowok menghampiri kami. Aku baru melihatnya. Entah dimana dia dari tadi. Dia tersenyum.

“kira-kira mau disiksa berapa lama lagi?” tanyanya. Tidak ada jawaban. Ia menunggu beberapa detik sebagai toleransi untuk kami mencari jawaban yang bagus. Tetap tidak ada yang menjawab.
“guna bibirmu itu apa ?" ia berteriak ke wajahku.
Entah perasaan apa yang menjalar di dinding hatiku. Aku merasa bibirku mendadak membesar atau semakin menebal. Ya tuhan, dia bertanya kepadaku.
“jangan disiksa lagi kak akhirnya bibirku berguna juga. Dia diam lalu memelototiku. “enak aja“ bisiknya tepat ditelingaku
Matanya tajam dan hitam.

Kulitnya terang meski tidak terlalu putih. Rambutnya hitam dan gondrong. Tubuhnya kurus dan tinggi. Aku tidak tahu apakah hanya aku yang berlebihan atau memang seperti itu adanya, di mataku ia begitu tampan dan dingin. Aku diam-diam memikirkannya.

Namanya Yoan, dia duduk di kelas tiga saat aku baru menjadi siswi baru di sekolah ini. Dia memiliki seorang pacar – teman sekelasnya- bernama inggrid. Aku tidak berduka atau menagis. Wajar bagiku jika dia memiliki seorang pacar, karena aku memang takkan percaya jika senior-yang telah menjelma menjadi idolaku itu- belum memiliki teman special.
Hari kelima ospek, aku disuruh bernyanyi tepat di depan kak yoan. Sangat memalukan untukku, karena aku memang tidak akan bisa benar-benar bernyanyi di depannya. Ia hanya akan membuat jantungku kurang sehat. Bisakah aku berpindah tempat? oh tuhan.
“udah selesai nyanyinya?” seorang senior melabrakku. Aku menggeleng. Dia memaksaku membuka mulut. aku mulai bernyanyi. Sebenarnya bernyanyi atau tidak, tidak akan ada yang memperdulikanku. Karena suasana ospek yang ricuh dan gaduh.

Tubuhku sedikit kaku saat kak inggrid datang. Dia begitu cantik. Tiba-tiba aku membayangkan wajah kusamku yang terbakar matahari dan bau badanku yang dilumuri keringat bau. Aku hanya akan menjelma menjadi gadis tidak tahu diri jika mencoba membanding-bandingkan diriku dengan seorang inggrid. Aku terus bernyanyi dan berjuang menganggap semua baik-baik saja.
Aku menatapnya dari kejauhan. Memperhatikan apa yang dilakukan dan tentang apa yang berubah dalam dirinya. Dia mungkin tidak tahu namaku meski sudah cukup sering kami berpapasan. Aku semakin menyukainya. Segala hal tentangnya adalah penting untukku. Aku terus memendam rasaku. Dua bulan sebelum kelulusan kak yoan, aku merasa gelisah. Kak yoan akan meninggalkan sekolah ini.

Dan yang aku takutkan adalah perginya dia dari pandangan mataku. Aku bisa menahan hatiku selama ini adalah karena dia masih berada di tempat yang bisa kulihat. Tapi nanti, aku tidak yakin bisa tenang jika dia berada di tempat yang tidak kutahu dan tidak bisa kulihat. Ya, dia pacar kak inggrid dan aku tidak pernah melupakan itu.
Apa yang harus aku lakukan agar dia menyadari keberadaanku ? saat aku memperoleh juara dua umum semester lalu saja, tidak bisa membuat kak yoan menatapku. Apa aku harus menyiapkan benda kenang-kenangan untuknya? oh tidak. Itu sama saja aku mengentuti wajahku sendiri. “ bersahabat aja lewat dunia maya“ dina, sahabatku mematahkan kebingunganku.
“apa? “ tanyaku meminta penjelasan. Dina meletakkan komik detective conan yang sedari tadi dibacanya. Dia menatapku serius.
“coba jadi sahabatnya lewat dunia maya. Kamu bisa dekat tanpa takut atau malu identitasmu terbongkar” katanya . lucu. Tapi entah kenapa hati kecilku tidak menolak saran itu.
Aku memulai perjuanganku dengan membuat sebuah email lalu sebuah friendster, meng- upload foto animasi sebagai foto profil. Dengan nama Queen, aku memulai penyamaran. Kukirimi pesan ke email kak yoan. Mulai dari mengajak kenalan hingga bertanya tentang kesibukan. Hingga memasuki hari kelima penyamaran dunia maya, tidak satu pun ada balasan email dari kak yoan.

Aku memutar otak, akhirnya aku beralih menjadi gadis misterius dengan selalu mengirim sms ke ponsel kak yoan. Tidak ada beda dengan penyamaran lewat email. Aku tidak mendapat respon apapun. Aku merasa tubuhku lemas luar biasa. Sebegitu hebatkah pesona kak inggrid hingga seorang yoan tidak bisa sedikit saja menoleh orang yang mendatanginya? aku benar-benar ingin menyudahi sikap tololku ini.
Aku berjalan menuju toilet lima menit sejak guru matematika meninggalkan kelas. Ketika aku menatap kearah kantin, aku melihat kak yoan sedang duduk sendiri. Aku melupakan tentang sakit perutku dan toilet. Aku menatap pria keren yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Tiba-tiba terlintas di benakku untuk kembali mengiriminya sms.
“kamu yoan kan ? aku teman lama kamu”.
Messege sent. Kulihat kak yoan merogoh sakunya. Dipandanginya sebuah benda berwarna silver yang tidak lain adalah ponselnya. Aku merasa tegang. Lebih menegangkan dari lomba olympiade sains dua bulan lalu. Ya tuhan, apa yang akan dilakukannya ? membalas pesanku ? aku merasa ada yang terluka dalam hatiku.

Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Kak yoan tersenyum sinis lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya. Inikah sikap manusia yang begitu ku puja itu ? oh tuhan, harusnya tadi aku terus berjalan ke toilet dan tidak melihatnya.
Tiba hari yang kutakutkan. Acara perpisahan kelas tiga. Kak yoan akan pergi. Aku tidak bisa berbuat apa- apa. Aku berada di dapur selama acara berlangsung, aku ditugaskan menjadi petugas konsumsi. Beberapa senior memasuki dapur untuk sekedar mengucapkan kata- kata perpisahan pada kami. Aku merasa semakin sakit membayangkan hari esok yang pasti akan sangat melukaiku.
“Lanna, kotak nasi udah cukup belom?“ dina menghampiriku.
“udah. Tapi aku hitung dulu lagi ya". Kuhitung kembali tumpukan nasi kotak dihadapanku. Tiba- tiba suara teman- teman yang dari tadi gaduh mendadak sunyi. Mereka serentak menatap kearah pintu dapur. Seorang senior cowok bernama fadhly masuk. Tiba- tiba dadaku sesak. Seorang pria yang amat kusayangi menyusul masuk dibelakang kak fadhly. Kak yoan masuk.

mereka menjabat tangan teman- temanku. Setelah kak fadhly menjabat tanganku, aku tahu kak yoan yang akan menjabat tanganku. Aku merasa wajahku merah padam. Kak yoan berjalan kearahku. Ia berdiri tepat di hadapanku. Ia memberikan tangannya. Kusambut tangan pria yang tidak berhasil menjadi sahabat dunia mayaku itu. Aku berusaha merekam suhu tangannya. Sedikit dingin. Aku tidak mampu menatap wajahnya, mataku hanya terpaku ke dadanya. Tiba- tiba tubuhku ditarik. Aku dipeluk.
Hari indah itu adalah hari terakhir aku menatap kak yoan. Karena hingga aku lulus dari Sma itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Sekarang, aku sudah menjadi seorang mahasiswi semester tiga. Empat tahun berlalu sejak ia memelukku di hadapan beberapa temanku. Aku tidak mengerti kenapa ia memelukku, namun aku percaya ia tidak benar- benar buta terhadapku.

Karena saat ia mengurungku dengan tubuh dan kedua tangannya, aku merasa ia menjatuhkan kepalanya ke bahuku. Aku faham satu hal saat itu, bahwa ia tahu aku menyukainya namun ia tidak bisa membalas rasaku dan hanya bisa memberiku pelukan. Pelukan pertama dan terakhir.
Lima tahun lebih perasaan ini bersarang dalam hatiku. Ia tidak kunjung hilang meski selama lima tahun itu juga aku tidak pernah tahu kak yoan ada dimana, dengan siapa dia kini dan apakah ia masih akan mengenaliku jika kami bertemu. Jalan hidup setiap orang tidak pernah sama, dan aku sangat menyadarinya. Namun, tidak bisakah jalan hidupku diperindah sedikit saja? Apakah tidak ada pria yang bisa menjadi penawar perasaanku ini ? Seandainya tidak ada dan hanya kak yoan yang kumau, aku ingin tahu keberadaannya sekarang.
Sudah ratusan kali aku mencari kak yoan melalui situs jejaring social, facebook. Beberapa orang muncul dengan nama yoan, namun tidak satupun ada yoan yang kucari. Aku sudah menjadi gadis muka tembok di depan senior- seniorku karena aku sibuk menelpon mereka hanya untuk skeedar bertanya “punya fb atau twitter kak yoan nggak, kak ?” dan jawaban mereka tidak jauh- jauh beda. “nggak ada tuh. Udah lama nggak komunikasi. Ponselnya juga udah lama nggak bisa dihubungi”.
Perjalananku terasa semakin pahit saat aku mendapat kabar dari kak nissa, seorang senior yang pernah kumintai info tentang kak yoan. “aku dengar dari sepupunya, dia kuliah di malang. Sekarang dia lagi pacaran serius sama teman kuliahnya. Namanya iwa. Aku dapat no ponselnya, kamu mau nggak?” Tanya kak nissa.
nggak kak ” jawabku cepat. “loh, kemarin kamu getol banget cari infonya. Sekarang aku udah dapat, kamu malah nggak mau. Gimana sih” kak nissa heran. Ulu hatiku terasa perih. Penantian panjangku mendadak ambruk menimpaku hingga terluka.
nggak usah kak, soalnya orang yang minta info kak yoan udah pindah dari sini” aku berdusta.
loh bukan kamu toh yang perlu info yoan ?”.
“bukan kak” lagi- lagi aku menambah kebohonganku. Aku butuh nomor ponselnya, namun bukan saat ia bersama gadis lain. Karena bukan ini yang kumau.
Aku serius tentang ketidakmauanku menerima nomor ponsel kak yoan. Perasaanku terlalu indah dan sejati untuknya, dan aku tidak akan menodainya dengan cara tidak terpuji- mendekati kak yoan sedangkan aku tahu ia bersama gadis lain- aku tidak pernah berfikir akan meletakkan cintaku di tempat serendah itu. Akhirnya aku kembali memperpanjang waktu kesendirianku. Seakan terlalu memahami kak yoan, seperti itu aku memaklumi kealpaannya terhadapku. Lagi- lagi aku memberinya waktu untuk mencari dan menatapku.
Malam yang semakin larut tidak menyurutkan semangatku menyusun makalah untuk tugas produksi besok. Lagu bondan- Ya sudahlah – membuatku semakin tidak berniat untuk menyerah pada tugas yang semakin banyak, pada hidup dan pada cintaku. Bukankah semua belum berakhir, pikirku. Ponselku bergetar mengagetkanku. 1 new messege.
apa kabar Lan ? Yoan”.
Hah? yoan? kak yoan? Yoan mana??
ya tuhan. Jantungku berpacu hebat. Kepalaku mendadak pusing.
Dia mengirim pesan untukku. Aku kembali memperjelas penglihatanku. Benar, ini dari kak yoan. Aku gemetar. Tiba- tiba nomor itu memanggil. Aku merasa gugup luar biasa. Apakah ada seseorang yang sengaja mengerjaiku atau seseorang sudah memberitahunya bahwa aku menyukainya sejak kelas satu Sma dan selalu mencari info tentangnya ? tuhan, kau tahu kan kalau aku sedang susah bernafas.

Jempolku ternyata lebih berani. Dia menekan tombol Yes, dan
“Assalamu'alaikum Lanna” suara disebrang menggetarkan hatiku.
“wa'alaikumsalam kak ”. otakku masih terus sibuk berfikir apakah yang sedang meneleponku ini kak yoan atau bukan.
“masih ingat aku nggak ?” tanyanya.
“kak yoan yang di Smu yah ?” tanyaku mencoba menebak. Dia tertawa pelan.
“seingatku yang namanya yoan cuma aku deh. Iya, aku senior yang lancang peluk kamu di dapur sekolah” jawabnya dingin.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa kemarin malam adalah hari yang sudah kutunggu- tunggu sejak lima tahun lalu. Meski hanya tujuh menit bicara, itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduanku selama ini. Saat aku berada di kampus, kak yoan mengirimiku pesan.

Aku hanya tahu betapa hatiku luluh lantah menerima perhatian- perhatian kecil yang sedikitpun tidak pernah kubayangkan. Pembicaraan kemarin malam ternyata bukan telepon basa- basi, karena sejak itu ia tidak pernah berhenti menanyakan kabar dan kegiatanku. Dia berhasil membuatku sangat bahagia. Namun aku tidak akan melupakan seseorang, kak nissa pernah berkata bahwa kak yoan sedang dekat dengan seorang teman sekampusnya bernama iwa. Sepulang kuliah kuberanikan diri untuk meneleponnya.

Tidak diangkat. Rasa kecewa menyelimuti hatiku. Setelah diangkat ke awan, sekejap ia bisa menjatuhkanku ke bumi.
Kusembunyikan ponselku kebelakang tumpukan baju di lemari. Aku sedang berusaha menjauhkan keinginanku untuk menghubungi kak yoan. Bukankah dia hanya menelepon dan menanyai kabarku, tapi kenapa aku justru menganggap ini sebagai awal yang baik.

Aku prihatin pada diriku sendiri yang menjelma menjadi gadis gede rasa. Kulanjutkan aktivitasku tanpa ponsel. Tiba- tiba terdengar suara dari dalam lemari. Bodoh, aku lupa mematikan nada ponselku. Ternyata aksi menyembunyikan ponsel hanya bertahan kurang dari sepuluh menit. Aku terpaku menatap nama yang muncul di layar ponselku. Kak yoan calling...
“Assalamu'alaikum kak ” sapaku.
“wa'alaikumsalam dek. Tadi nelpon yah ? aku lagi di ruang dosen tadi. Bulan depan aku wisuda. Alhamdulillah ” ujarnya membuat hatiku merasa malu. Aku uring- uringan nggak jelas hanya karena kak yoan tidak mengangkat teleponku. Dia sedang sibuk ternyata dan aku bersikap sok jadi cewek ngambek. Memalukan.
“wisuda kak ? Alhamdulillah ya kak. Smoga semua lancar dan kakak langsung dapat kerja ” ujarku diam- diam semakin kagum.
“Amin ya Allah. Kamu di Jakarta kan? aku jemput yah” katanya mengagetkanku.
“jemput ? jemput apaan kak? bukannya kak yoan sekarang di malang” jawabku.
“bulan depan aku jemput buat nemani aku di wisuda nanti” dia semakin mengagetkanku.
“keluarga kak yoan kan datang” ujarku masih dengan jantung yang sudah menari- nari. jantung menari? berlebihan deh.
“iyah, pasti datang kalau keluargaku. Aku mau kamu juga ada disini. Aku jemput kalau kamu mau”.
Aku merasa badanku panas dingin. Dia mau aku ada disana bersamanya ? tahukah dia kalau setiap kata- katanya selalu berefek besar padaku ?
“Ada kak iwa kan disana?” aduh, pertanyaan bodoh. Memangnya ada masalah apa aku dengan yang namanya iwa itu ? dia pasti akan menjawab “ kan nggak apa- apa. Sekalian aku kenalin sama pacarku iwa nanti”.
Aku benar- benar tidak siap mendengar jawabannya nanti. “ Lan..” panggilnya. “iya kak ” sahutku. Hening sejenak. “

"Aku sekarang sendiri. Tidak terikat hubungan dengan siapapun. Aku tahu kamu mencariku dan tahu soal iwa pasti dari salah seorang temanku kan ? terima kasih sudah mencemaskanku. bulan depan aku akan sampai di Jakarta dua hari sebelum wisuda. Kamu mau mendampingiku dek ?” tanyanya lembut.
Hatiku bergetar. Mataku terasa panas dan basah. Dia begitu mengharapkan dan menghargaiku. Ini sangat indah. Kubayangkan kak yoan dengan wajah dan tatapan dingin menjemputku dan menginginkanku menjadi pendamping di hari bersejarah dalam hidupnya. “ insya allah aku mau kak. Tapi sejak kakak lulus Sma, kita belum pernah bertemu lagi” aku mengkhawatirkan akan ada kekecewaannya terhadapku nanti setelah bertemu.
“kamu terlalu parno dek. Ya sudah, sholat ashar sana. Nanti malam aku telepon lagi”.
Hari itu benar- benar tiba. Kak yoan meneleponku dan mengatakan bahwa ia sudah berada di depan kampusku. Dia sudah memberitahuku jauh- jauh hari dan aku sudah susah payah mempersiapkan mental.

Hari ini, segala yang aku persiapkan sama sekali tidak membantuku. aku berjalan menuju gerbang kampus, tidak ada siapapun disana. Saat aku mencoba meneleponnya, satpam kampus menghampiriku dan mengatakan seorang pria menungguku di samping tempat parkiran. Aku merasa jantungku semakin tidak bisa diajak kompromi. Aku memperlambat langkahku. Aku ingin penyakit grogi-ku ini sembuh sebelum aku sampai dihadapannya.

Aku semakin tidak kuasa mengontrol jantungku, seorang pria berdiri membelakangiku. Dia masih tetap kurus, dia memakai kaos hitam, jeans hitam, kulitnya tetap terang seperti dulu. “ Kak yoan” panggilku. Pria itu membalikkan badannya. Aku terhenyak. Dia benar kak yoan. Tubuhku gemetar. Kak yoan berjalan kearahku. Dia menatapku lekat. Waktu terasa berhenti. Matanya yang hitam dan tajam terasa membekukan ekspresiku. Aku sendiri tidak tahu, aku sedang tersenyum, tertawa atau hanya diam seakan melihat sesuatu yang sangat istimewa.
“Kamu udah selesai jam kuliah ? besok kan sabtu, kampus libur, jadi nggak ada masalah kan ?” tanyanya tersenyum. Aku mengangguk.
Dia terus mencuri pandang ke arah pipiku, Oh Noo...aku mau pingsan.
Setelah makan siang, kami berangkat ke malang dengan naik kereta api. Aku duduk sebelah jendela dan dia disampingku. Perasaanku terasa berantakan ketika kak yoan memakaikan kaos kaki untukku karena cuaca yang sangat dingin. Aku menutup tirai jendela saat angin menabrak wajahku dan membuat rambutku berantakan. Saat malam tiba, dia tidur dengan lelap. Kuperhatikan wajahnya secara detail. Jantungku berdegup kencang.

Pria ini begitu tampan, dingin dan mempesona. Aku masih belum yakin dia bisa membuat keputusan dengan memilihku sebagai pendampingnya di wisuda nanti. Tiba- tiba matanya terbuka. Aku terlambat untuk berpura- pura tidak melihatnya.
"Aku nggak punya jerawat atau komedo. Jadi percuma saja kamu mencari- cari kekuranganku” ujarnya sambil menyelimutiku dengan sweater miliknya.
Jam 07.28 pagi kami sampai di malang. Kak yoan menenteng tasku dan menuntunku keluar dari gerbong. Perasaanku terasa kuat dan mantap. Dia memang belum mengatakan apa- apa padaku, dia belum memintaku untuk menjadi seseorang yang terdekat untuknya. Namun dia bukan pria pecundang yang akan mengabaikanku setelah memberiku harapan sebesar ini.
Kak yoan membawaku ke sebuah rumah berwarna cokelat muda. Tidak kulihat tanda- tanda bahwa rumah itu kost atau kontrakan mahasiswa. Menyadari kebingunganku, kak yoan menjelaskan bahwa ini adalah rumah tantenya.
“orang tuaku ada di dalam. Mereka tahu kalau kamu akan datang. Jadi dua hari ini kamu bersama kami di rumah ini”.
Ya tuhan, seluruh keluarga dari orang tua hingga tantenya ada di rumah ini. Aku merasa sangat kikuk. Seorang wanita berusia sekitar 47-an menghampiri kami. Otakku mulai menebak, ini pasti ibu atau tante kak yoan.
“Ma, ini Lanna” kak yoan mencium tangan wanita itu. Aku merasa wajib mengikuti apa yang dilakukan kak yoan. Wanita itu tersenyum lalu membimbingku masuk ke dalam rumah. Pagi itu aku disambut bak menantu idaman. Aku tersanjung. Namun ini bukan untukku. Aku hanya sekedar teman kak yoan. Malamnya aku tidur bersama sepupu kak yoan. Aku tidak menyangka, mereka amat menerimaku.
Hari bersejarah itu akhirnya tiba. Aku beserta keluarga besar kak yoan menghadiri acara wisudanya. Mengenakan toga, kak yoan seperti pangeran tampan yang hendak merayakan keberhasilannya. Warna toga yang hitam semakin memperkuat citra dinginnya. Di tengah- tengah keluarganya aku merasa semakin terpikat pada seniorku itu. Acara berlangsung hikmad.

Aku terus menatap wajah kak yoan, betapa ia sangat menikmati detik- detik terakhir di kampusnya ini. Saat acara berakhir, semua wisudawan saling berjabat tangan, berpelukan meluapkan rasa bangga dan haru. Anganku melayang mengingat masa- masa acara perpisahan angkatan kak yoan saat Smu.

Tidak pernah terpikir olehku lima tahun yang lalu bahwa aku akan mendampinginya di acara wisudanya. Aku hanya berfikir bahwa saat ia memelukku dulu, itu adalah kali pertama dan terakhir aku menyentuhnya.
Kak yoan menghampiri kami. Dia memeluk orang tuanya, tante, om, adik dan sepupunya. Dia melangkah kearahku. Aku teringat saat di dapur sekolah dulu, dia berjalan kehadapanku, memberikan tangannya lalu memelukku. Namun kini tidak akan mungkin, ada ayah ibunya bersama kami. Kak yoan menatapku. Lagi- lagi tatapan dingin itu. Dia memberikan tangannya.

Kusambut tangannya. Dia menggenggam tanganku lama sekali. aku merasa ia sedang mengungkapkan banyak hal lewat tangannya.
Setelah mengabadikan moment- moment penting itu, kami semua beranjak untuk makan siang. Kak yoan menahanku dan meminta izin pada keluarganya kalau dia ingin berbicara sebentar denganku. Aku tersenyum dalam hati. Dia membawaku ke sebuah tempat yang tidak terlalu banyak orang.
“kakak keliatan gemuk deh pake toga” candaku. Dia tertawa sambil melipat toga bagian perutnya. Aku tertawa melihat tingkahnya. Tiba- tiba dia menggenggam kedua tanganku.
“mau dikenalin sama iwa nggak ?” tanyanya. Aku kaget. Aku menunduk dalam. Entah apa yang menjalar di sudut hatiku. Kak yoan menatapku dalam. Dia tersenyum.
“Aku becanda sayang…” ucapnya membuatku berdebar.
Kutatap matanya yang sudah sejak tadi memandangku. Tiba- tiba ia merapatkan tubuhnya. Ia memelukku. Aku terhenyak. Deru dihatiku meluap hebat. Kupeluk erat tubuh pria yang baru setengah jam lalu resmi menjadi sarjana tekhnik ini. Dia memelukku lama dan berbisik
“Jadikan aku yang terakhir ya sayang…”. Kujawab dengan anggukan pasti.
Inspiried by : My best friend's Experience
*****