Selasa, 01 November 2011

Maher Zain- For The Rest of My Life

I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
OOOOO
And theres a couple words I want to say

For the rest of my life

I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart

I feel so blessed when I think of you
And I ask Allah to bless all we do
You`re my wife and my friend and my strength
And I pray we`re together eternally

Now I find myself so strong

Everything changed when you came along
OOOO
And theres a couple word I want to say

For the rest of my life

I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart now that you`re here

Infront of me I strongly feel love
And I have no doubt
And I`m singing loud that I`ll love you eternally

For the rest of my life

I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you.loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart

Maher Zain- InsyaAllah

Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan terus berharap
Allah selalu di sisimu

Reff:

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan

Every time you commit one more mistake

You feel you can’t repent and that it’s way too late
You’re so confused wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

But don’t despair and never lose hope

’Cause Allah is always by your side

Reff2:

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah you’ll find a way
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan

Turn to Allah He’s never far away

Put your trust in Him, raise your hands and pray
Oh Ya Allah tuntun langkahku di jalanmu
Hanya engkaulah pelitaku
Tuntun aku di jalanmu selamanya

Reff3:

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah we’ll find our way
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah we’ll find our way

Maher Zain- Baraka Allahu Lakuma

Baraka Allahu Lakuma

We’re here on this special day
Our hearts are full of pleasure
A day that brings the two of you
Close together
We’re gathered here to celebrate
A moment you’ll always treasure
We ask Allah to make your love
Last forever

Let’s raise our hands and make Du’a

Like the Prophet taught us
And with one voice

Let’s all say, say, say



وجمع بينكما في خير
بارك الله لكما وبارك عليكما
بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fee khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.

From now you’ll share all your chores

Through heart-ship to support each other
Together worshipping Allah
Seeking His pleasure

We pray that He will fill your life

With happiness and blessings
And grants your kids who make your home
Filled with laughter

Let’s raise our hands and make Dua

Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say


وجمع بينكما في خير
بارك الله لكما وبارك عليكما
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fee khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.


بارك الله لكم ولنا
بارك الله

الله بارك لهما

الله أدم حبهما
الله صلّي وسلّم على رسول الله

الله تب علينا

الله ارض عنا
الله اهد خطانا
على سنة نبينا

Let’s raise our hands and make Du’a

Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say


Barakallahu Lakuma wa Baraka alikuma
بارك الله لكما وبارك عليكما

Khusnul Khotimah

Khusnul Khotimah
oleh: Opick

Terangkanlah.. terangkanlah..
jiwa yang berkabut langkah penuh dosa
bila masa tlah tiada
kereta kencana datang tiba-tiba

Airmata dalam luka tak merubah ceritanya

hanya hening dan berjuta tanya
dalam resah dalam pasrah

Terangkanlah.. terangkanlah..

hati yang mengeluh saat hilang arah
detik waktu yang memburu
detik yang tak pernah kembali padaMu

Terangilah.. terangilah..

bimbing kami dalam langkah
ampunilah.. maafkanlah..
dosa hidup sebelum di akhir masa

Ya Allah biha ya Allah biha

ya Allah bi khusnul khotimah
ya Allah biha ya Allah biha
ya Allah bi khusnul khotimah


Opick
Opick




DAKWAH adalah CINTA

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga.

Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang. Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik?

Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak! Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani, justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana.
Pun mereka pergi, akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.

Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman.

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk, sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang. “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta.
Mengajak kita untuk terus berlari.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satu harus mengalah.

[ Dikutip dari Ceramah di Pengajian ]

KHITBAH



Allah SWT menjelaskan dalam FirmanNya:

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).



Dan Rasulullah SAW telah menerangkan tentang tata cara dan peraturan dalam melaksanakan dan menjalankan khitbah serta anjuran tuk menikah dalam islam.. diantaranya hadits beliau SAW:


* Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
* Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)

Apabila seorang laki-laki yang shalih dianjurkan untuk mencari wanita muslimah ideal, maka demikian pula dengan wali kaum wanita. Wali wanita pun berkewajiban mencari laki-laki shalih yang akan dinikahkan dengan anaknya, sebagaimana bunyi hadits berikut:

* Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud).
* Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Bahwasanya tatkala Hafshah binti ‘Umar ditinggal mati oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahmi, ia adalah salah seorang Shahabat Nabi yang meninggal di Madinah. ‘Umar bin al-Khaththab berkata, ‘Aku mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan untuk menawarkan Hafshah, maka ia berkata, ‘Akan aku pertimbangkan dahulu.’ Setelah beberapa hari kemudian ‘Utsman mendatangiku dan berkata, ‘Aku telah memutuskan untuk tidak menikah saat ini.’’ ‘Umar melanjutkan, ‘Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman.

Maka berlalulah beberapa hari hingga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminangnya. Maka, aku nikahkan puteriku dengan Rasulullah. Kemudian Abu Bakar menemuiku dan berkata, ‘Apakah engkau marah kepadaku tatkala engkau menawarkan Hafshah, akan tetapi aku tidak berkomentar apa pun?’ ‘Umar men-jawab, ‘Ya.’ Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menghalangiku untuk menerima tawaranmu, kecuali aku mengetahui bahwa Rasulullah telah menyebut-nyebutnya (Hafshah). Aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jika beliau meninggalkannya, niscaya aku akan menerima tawaranmu.

Khitbah merupakan pintu menuju pernikahan yang diridhoi dan dianjurkan oleh Allah SWT dan rasulNya, dimana rasulullah SAW bersabda pula:

* Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
* Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Sebagaimana biasanya dalam Islam, segala sesuatu memiliki aturan dan persyaratan yang harus dipenuhi, maka khitbah pun memiliki persyaratan yang wajib dipenuhi, yaitu sebagai berikut:

a. Tidak adanya penghalang antara kedua mempelai, yaitu tidak ada hubungan keluarga (mahrom), tunggal susuan (rodloah), mushoharoh, atau penghalang yang lain, sebab kitbah adalah langkah awal dari perkawinan maka disamakan hukumnya dengan akad pernikahan.

b. Tidak berstatus tunangan orang lain, seperti dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam An-Nasai mengatakan :" Tidak boleh bagi seorang lelaki melamar tunangan orang lain sehingga ia menikahinya atau meninggalkannya ".

Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim. Keharaman ini jika tidak mendapat izin dari pelamar pertama atau ada unsur penolakan dari pihak mempelai wanita, itu tadi adalah pendapat mayoritas ulama' (Hanafiah, Malikiah dan Hanabilah), namun sebagian ulama' lain memperbolehkan khitbah tersebut apabila tidak ada jawaban yang jelas dari mempelai wanita.

Haruskah adanya khitbah?

Jawabannya tentu, Ya harus, karena khitbah memiliki beberapa keutamaan yang tidak bisa diperoleh bila seseorang langsung melaksanakan akad nikah, beberapa keutamaan khitbah adalah antara lain:

* Saling Ta’aruf satu sama lain, hingga sama-sama memiliki gambaran tentang calon suami/istri yang akan dinikahinya, hal tersebut akan memudahkan langkah awal dalam kehidupan berumah tangga.
* Saling memngakrabkan satu sama lain dengan tujuan menumbuhkan mawadah, memupuk rasa kehormatan dan saling menerima, yang kemudian dapat berkelanjutan kejenjang pernikahan

Melihat calon isteri pada dasarnya hukumnya mandub (sunnah) menurut pendapat jumhur ulama (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, jld. III, hal. 113).

Adapun dari segi waktu, melihat calon isteri hukumnya boleh (mubah) sebelum khitbah, berdasarkan tunjukan (dalalah) bahasa dan dalil hadits Nabi Saw. Boleh pula dilakukan sesudah khitbah berdasarkan dalil hadits Nabi Saw.
Nabi Saw bersabda: Jika salah seorang kamu hendak mengkhitbah seorang perempuan, maka tidak ada dosa atasnya untuk melihat perempuan itu jika semata-mata dia melihat perempuan itu untuk khitbah baginya, meskipun perempuan itu tidak mengetahuinya. [HR. Ibnu Hibban dan ath-Thabarani, dari Abu Hamid As-Sa’idiy ra. Hadits hasan

Hadits itu dengan jelas menunjukkan bolehnya melihat perempuan sebelum mengkhitbahnya. Maka dari itu, banyak ulama yang membolehkan melihat calon isteri sebelum terjadinya khitbah
Kesimpulannya, bahwa secara syar’i mubah bagi seorang laki-laki untuk melihat perempuan calon isterinya sebelum terjadinya khitbah dari lelaki itu kepada pihak perempuan. Namun dalam melakukannya, tidak boleh dilakukan dengan berkhalwat (berdua-duan secara menyendiri
Adapun melihat setelah khitbah, juga dibolehkan menurut syara’. Diriwayatkan bahwa al-Mughirah ra telah mengkhitbah seorang perempuan. Nabi Saw lalu bersabda kepadanya, “Unzhur ilayha! Fa-innahu ahrâ an yu’dama baynakumâ.” (Lihatlah dia! Karena itu akan lebih mengekalkan perjodohan kalian berdua). [HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. Lihat Imam ash-Shan’ani, Subulus Salam, III/113).
Namun apakah khitbah membolehkan seseorang berkhalwat dengan pinangannya?

Khitbah, meski bagaimanapun dilakukan berbagai upacara, hal itu tak lebih hanya untuk menguatkan dan memantapkannya saja. Namun untuk berkhalwat tetap tidak diperbolehkan dalam arti yang sebenarnya, maksudnya bila seseorang benar-benar berkhalwat berdua dengan pinangannya hingga memungkinkan masuknya pihak ketiga [setan] maka hal itu tentunya akan mengakibatkan kemudharatan dan bukan kemaslahatan. Rasulullah SAW bersabda:

„Jauhilah olehmu berduaan dengan perempuan. Demi diariku yang ada ditangan-Nya, seorang laki-laki yang berduaan dengan seorang perempuan, pasti setan akan menjadi teman ketiganya dan seorang yang mencelupkan tangannya ke dalam darah babi yang bercampur lumpur adalah lebih baik daripada ia menyentuh tangan perempuan yangbukan mahramnya“(H.R. Thabrani).

Karena itu, yang penting dan harus diperhatikan di sini bahwa wanita yang telah dipinang atau dilamar tetap merupakan orang asing (bukan mahram) bagi si pelamar sampai terselenggaranya perkawinan (akad nikah) dengannya. Tidak boleh ia dan teman wanitanya bersepian (berkhalwat).
Karena itu, nasihat saya kepada saudara penanya, hendaklah segera melaksanakan akad nikah dengan wanita tunangannya itu. Jika itu sudah dilakukan, maka semua yang ditanyakan tadi diperbolehkanlah. Dan jika kondisi belum memungkinkan, maka sudah selayaknya ia menjaga hatinya dengan berpegang teguh pada agama dan ketegarannya sebagai laki-laki, mengekang nafsunya dengan berpuasa dan mengendalikannya dengan takwa. Sungguh tidak baik memulai sesuatu dengan melampaui batas yang halal dan melakukan yang haram. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

“ Wahai para pemuda, jika kamu sudah mempunyai bekal, maka segeralah menikah. Karena dengannya pandangan matamu akan terjaga dan nafsu syahwatmu akan terkendali. Jika belum mampu menikah, maka berpuasalah karena puasa itu merupakan benteng (dari hawa nafsu)”(H.R. Bukhari Muslim).

Sebaiknya para bapak dan para wali agar mewaspadai anak-anak perempuannya, jangan gegabah membiarkan mereka yang sudah bertunangan. Sebab, zaman itu selalu berubah dan, begitu pula hati manusia. Sikap gegabah pada awal suatu perkara dapat menimbulkan akibat yang pahit dan getir. Sebab itu, berhenti pada batas-batas Allah merupakan tindakan lebih tepat dan lebih utama.

Allah SWT berfirman:
"... Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Q.S.Al-Baqarah/2: 229)

"Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan." (Q.S. An-Nur/24: 52).


Wallahu A’lam

Ayah, Ibu..Fiah ingin Masuk Syorga..



Ibu, ayah ... lewat berbakti padamu lah jalan menuju surga Rabbku.

Alhamdulilllah wa shalaatu wa salaamu 'ala Rosulillah wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

"Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina." Ada yang bertanya, "Siapa, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga."(HR. Muslim)

Dari Abdullah bin 'Umar, ia berkata,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung padamurka orang tua." (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam)


Jasa Orang Tua Begitu Besar

Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan. Tatkala dia melahirkan juga demikian. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya. Oleh karena itu, jasanya sangat sulit sekali untuk dibalas, walaupun dengan memikulnya untuk berhaji dan memutari Ka'bah.

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu 'Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka'bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ - إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ
Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.
ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟ قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ
Orang itu lalu berkata, "Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?" Ibnu Umar menjawab, "Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan." (Adabul Mufrod no. 11. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad)

Berbakti pada Orang Tua adalah Perintah Allah
Allah Ta'ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." (QS. Al Isra': 23)

Dalam beberapa ayat, Allah selalu menggandengkan amalan berbakti pada orang tua dengan mentauhidkan-Nya dan larangan berbuat syirik. Ini semua menunjukkan agungnya amalan tersebut. Allah Ta'ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak." (QS. An Nisa': 36)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa." (QS. Al An'am: 151)

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 13-14)

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"." (QS. Al Ahqaf: 15)

Pujian Allah pada Para Nabi karena Bakti Mereka pada Orang Tua

Perhatikanlah firman Allah Ta'ala tentang Nabi Yahya bin Zakariya 'alaihimas salam berikut,

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

"Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka." (QS. Maryam: 14)
Begitu juga Allah menceritakan tentang Nabi Isa 'alaihis salam,

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32)

"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka." (QS. Maryam: 30-32)

Amalan yang Paling Dicintai oleh Allah adalah Berbakti pada Orang Tua

Kita dapat melihat pada hadits dari sahabat 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Beliau mengatakan,

سَأَلْتُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

"Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah 'azza wa jalla?' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Shalat pada waktunya'. Lalu aku bertanya, 'Kemudian apa lagi?' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, 'Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.' Lalu aku mengatakan, 'Kemudian apa lagi?' Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, 'Berjihad di jalan Allah'."
Lalu Abdullah bin Mas'ud mengatakan, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bakti pada Orang Tua Akan Menambah Umur

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat)." (HR. Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya)

Di antara Bentuk Berbakti pada Orang Tua

[1] Menaati perintah keduanya selama bukan dalam perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

"Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan." (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

أَطِعْ أَبَاكَ مَا دَامَ حَيًّا وَلاَ تَعْصِهِ

"Tatatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperinahkan untuk bermaksiat." (HR. Ahmad. Dikatakan oleh Syu'aib Al Arnauth bahwa sanadnya hasan)

[2] Mendahulukan perintah mereka dari perkara yang hanya dianjurkan (sunnah).Sebagaimana pelajaran mengenai hal ini terdapat pada kisah Juraij yang didoakan jelek oleh ibunya karena lebih mendahulukan shalat sunnahnya daripada panggilan ibunya. Kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

[3] Menghiasi diri dengan akhlaq yang mulia di hadapan keduanya, di antaranya adalah dengan tidak mengeraskan suara di hadapan mereka.
Dari Thaisalah bin Mayyas, ia berkata bahwa Ibnu Umar pernah bertanya, "Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?" "Ya, saya ingin", jawabku. Beliau bertanya, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" "Saya masih memiliki seorang ibu", jawabku. Beliau berkata, "Demi Allah, sekiranya engkau berlemah lebut dalam bertutur kepadanya dan memasakkan makanan baginya, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar."(Adabul Mufrod no. 8. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Di antara akhlaq mulia lainnya terdapat dalam hadits berikut. Dari Urwah atau selainnya, ia menceritakan bahwa Abu Hurairah pernah melihat dua orang. Lalu beliau berkata kepada salah satunya,

مَا هَذَا مِنْكَ ؟ فَقَالَ: أَبِي. فَقالَ: " لاَ تُسَمِّهِ بِاسْمِهِ، وَلاَ تَمْشِ أَمَامَهُ، وَلاَ تَجْلِسْ قَبْلَهُ

"Apa hubungan dia denganmu?" Orang itu menjawab, "Dia ayahku." Abu Hurairah lalu berkata, "Janganlah engkau memanggil ayahmu dengan namanya saja, janganlah berjalan di hadapannya dan janganlah duduk sebelum ia duduk." (Adabul Mufrod no. 44. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad)

[4] Menjalin hubungan dengan kolega orang tua.Ibnu Umar berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

"Sesungguhnya kebajikan terbaik adalah perbuatan seorang yang menyambung hubungan dengan kolega ayahnya." (HR. Muslim)

[5] Berbakti kepada kedua orang sepeninggal mereka adalah dengan mendo'akan keduanya.
Dari Abu Hurairah, ia berkata,

تُرْفَعُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ. فَيَقُوْلُ: أَيِّ رَبِّ! أَيُّ شَيْءٍ هَذِهِ؟ فَيُقَالُ: "وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ

"Derajat seseorang bisa terangkat setelah ia meninggal. Ia pun bertanya, "Wahai Rabb, bagaimana hal ini bisa terjadi?" Maka dijawab,"Anakmu telah memohon ampun untuk dirimu."(Adabul Mufrod, no. 36. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan secara sanad)

Ibu Lebih Berhak dari Anggota Keluarga Lainnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

"Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, 'Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, 'Ibumu'. Dia berkata lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, 'Ibumu.' Dia berkata lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, 'Ibumu'. Dia berkata lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, 'Ayahmu'." (HR. Bukhari dan Muslim)

An Nawawi rahimahullah mengatakan, "Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa." (Syarh Muslim 8/331)

Dosa Durhaka pada Orang Tua

Abu Bakrah berkata,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟) ثَلاَثًا، قَالُوْا : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : ( الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ ) وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ( أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرُ ) مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْتُ لَيْتَهُ سَكَتَ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling besar?" Para sahabat menjawab, "Mau, wahai Rasulullah."Beliau lalu bersabda, "(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan [pada tangannya]. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), "Dan juga ucapan (sumpah) palsu." Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), "Duhai, seandainya beliau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Abu Bakroh berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

"Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [diakhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Di antara Bentuk Durhaka pada Orang Tua

'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata,

إبكاء الوالدين من العقوق

"Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka pada orang tua."
Mujahid mengatakan,

لا ينبغي للولد أن يدفع يد والده إذا ضربه، ومن شد النظر إلى والديه لم يبرهما، ومن أدخل عليهما ما يحزنهما فقد عقهما

"Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam. Barangsiapa yang membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai keduanya."
Ka'ab Al Ahbar pernah ditanyakan mengenai perkara yang termasuk bentuk durhaka pada orang tua, beliau mengatakan,

إذا أمرك والدك بشيء فلم تطعهما فقد عققتهما العقوق كله

"Apabila orang tuamu memerintahkanmu dalam suatu perkara (selama bukan dalam maksiat, pen) namun engkau tidak mentaatinya, berarti engkau telah melakukan berbagai macam kedurhakaan terhadap keduanya." (Birrul Walidain, hal. 8, Ibnul Jauziy)

Hati-hatilah dengan Do'a Jelek Orang Tua

Abu Hurairah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

"Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya." (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Semoga Allah memudahkan kita berbakti kepada kedua orang tua, selama mereka masih hidup dan semoga kita juga dijauhkan dari mendurhakai keduanya.

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.
***

Lyric Lagu TIMELESS

Timeless

An dwae ya nai no a beo rim yean

Him deul ea do yeo g idea meo mul layo

Jo geum man do bal su I dam yean

Nam eun sa rang man keum usa bol taen dae


Timeless

I byeal eun a nijjo

Han bon sermira myeon

Jigeum oa rindae

Hald tight,baby


Timeless

I got seum ae mud oyo

Sung an eu yeal byeang choram

Jamahi man a peul bbun ini

We both agree

This is timeless love

Sae sang un da go ji man

Seul peum ma jo ham kkae ga neum ge an gayo

Na mu geu ri wo

Ddo nai bui ra bun geu dae

Ma eum bbun in sang cha man mo mui

Gae joyo

Tahae haen nun mul sam ki myean

Geu ddae so ya ar gae dwir kka yo

nessonjaba yo

da na gae mal a yo


Yea..hhh

Baby is timeless

Hald tight, baby timeless

Dol a gai qui da rok sun gan eui yeal byeang chorom

TUHAN, JENGUKLAH PERASAAN KAMI..


-TUHAN, Jenguklah perasaan kami-


“Ini terlalu berat untukku, Mas..”
Mas Gilang memegang kembali tanganku, dia menatapku dengan mata yang sejak semalam sembab.
“Kau telah mengatakan itu berkali- kali, Ra. Kita harus menyabarkan diri, meletakkan keimanan itu di tempat yang lebih tinggi. Dia tidak mencuri, dia mengambil milikNya” Mas Gilang menyentuh pipiku.
“Tapi kita sudah menjaganya dengan sangat baik. Kau lihat kan Mas, aku rutin meminum susu hamil itu, aku mendadak vegetarian demi kesehatan bayi kita- walaupun ketika makan sayur, rasanya aku mau meledak. Aku selalu menandai tanggal check up ke dokter di kalender kamar kita, dan aku sudah merajut banyak kaos kaki untuknya. Lihat, Tuhan mengambilnya tiba- tiba. Setelah kita persiapkan segalanya. Ini melukaiku, Mas..”
Aku membuang tangan Mas Gilang dari atas pipiku.

Perasaan ini tidak akan ada yang mengerti, Bahkan suamiku sekalipun. Dia tidak tahu betul bagaimana rasanya ketika perutku mulai membesar, dia tidak tahu rasanya bagaimana otot- ototku menahan bayiku setiap kali aku berjalan- seakan aku bicara pada lantai “Jangan minta aku untuk jatuh”.
Mas Gilang menatapku, lalu menatap selang infus yang tersambung ke pergelangan tanganku.
“Berhentilah menangis Sayang. Air matamu jika habis, aku tidak tahu kemana akan membelinya. Tuhan sedang memandangmu, tidakkah kau malu karena menggerutu atas takdir yang dibuatNya? Menyesal kah kau karena Anak kita diambilNya dalam keadaan suci?” Mas Gilang mendekatkan tubuhnya ke sisi kananku.
“Tapi Mas, harusnya aku merawatnya dulu. Membesarkannya dan mendidiknya dengan Ilmu Agama yang sudah kita pelajari”
“Maukah kau mendengar cerita tentang Anak- anak di Syorga?”
Aku menggeleng. “Tidak, Mas sudah menceritakannya hampir setiap malam. Aku sudah hapal ceritanya”
“Kali ini beda, Sayang. Ada Anak pendatang baru. Anak yang disambut dengan penuh suka cita- Anak itu tampak bahagia disana”
“Apakah dia Anak kita?”
“Ya, Ra. Dia anak kita. Anak yang baru pergi dari kita. Apakah kau masih akan menyesali kepergiannya, sementara dia pergi ke tempat paling menawan?”
“Harusnya dia bersamaku, Ibunya. Dia disini bersama kita, Mengenakan Kaos kaki rajutanku dan tidur di tengah- tengah kita”
Mas Gilang menunduk. Begitu dalam. Kami tenggelam dalam sebuah rasa yang begitu rumit dan mematikan hati. Sebelum ini terjadi, Aku mampu melewati berbagai Uji Coba yang diberikan Tuhanku, Aku kerap menasihati suamiku untuk bersabar ketika usaha yang dirintisnya bersama rekan- rekannya justru berbuah rugi. Aku selalu bisa membesarkan hatinya ketika dia tidak bisa memberiku hadiah di hari ulang tahunku. Namun kali ini aku sudah lupa bagaimana rasanya bersabar dan berfikir jernih, ketika aku kehilangan nyawa yang kususun dan kupintal di dalam diriku sendiri.
“Jangan menangis lagi, Tolong…..” Aku merasakan tangan yang hangat kembali mendekap pipiku. Ketika Mas Gilang mengatakannya, aku melihat air mata tertahan di ujung matanya.
“Kau terlalu sering menangisi ini, Ra. Kita terlalu larut dalam musibahnya dan meminggirkan hikmahnya.

Kita hentikan saling menangisi ini, Anak kita telah terpilih untuk menjadi penghuni syorga, dia tidak perlu menjadi pemeran dalam kehidupan yang penuh dengan kekonyolan ini. Tidakkah kau bangga menjadi orangtua yang berhasil menghantarkan anakmu tepat di sisiNya?”
“Lalu pada siapa kita akan memberikan nama- nama bagus yang kita rangkai selama ini?”
“InsyaAllah, kau akan diberikan Anak tampan dan Jelita lagi. Sudahi air matamu, kemasilah kesedihanmu dan ubah menjadi kekuatan. Kelak kau akan lebih menjadi seorang Ibu yang luar biasa. Kehilangan Bayi akan membuatmu sangat berhati- hati dalam menjaga anak- anakmu kelak. Percayalah, Kau adalah wanita yang di pilih untuk merasakan ini, Ira”
“Seandainya ya Mas, dulu aku mendengarkan perkataan tetangga”
“Mereka mengatakan apa?”
Aku menunduk, melihat perutku yang sudah mengecil, Namun aku tidak mendapatkan apa- apa kecuali cerita suamiku. Bahwa Aku telah menghantarkan anakku ke sisiNya dengan sangat tepat.
“Tetangga bilang apa, Ra?”
“Sewaktu aku mengandung, mereka mengingatkanku supaya tidak makan dengan piring sumbing dan tidak duduk di depan pintu. Dan satu lagi, tidak boleh membunuh hewan. Bukankah Mas Gilang sering membunuh tikus ketika aku hamil? Kalau saja itu tidak kita lakukan…….”
Mas Gilang tampak terkejut.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Mitos- mitos itu, Ra. Kelahiran dan Kematian itu sudah jelas ditakdirkan olehNya. Bukan karena kau makan dengan piring sumbing atau aku yang membunuh tikus. Ini takdir. Sudahi semua ini, Aku tidak suka melihatmu kehilangan iman seperti ini”
“Mas..”
“Aku bilang sudahi, Ira”
“Aku hanya ingin memintamu membuatkan Susu dan mengambilkan suplemen itu untukku, Mas”
“Kau sudah tidak membutuhkan itu lagi, Kau sudah tidak hamil. Ra, besok kita akan pulang, untuk sementara kau tinggal di rumah ibumu dulu. Biar aku mengurus semua pembayaran dan melihat keuntungan usaha yang sudah aku tinggalkan beberapa hari ini”
****
Pagi itu, seperti didorong gelombang tepat di punggungku dan isi perut yang hampir meledak, aku melarikan diri ke kamar mandi. Setelah merasa memuntahkan banyak hal- aku tidak tahu apa, tiba- tiba aku merasa pengelihatanku kabur. Aku masih sempat mencari pegangan, namun aku sudah merasa tubuhku berpelukan dengan lantai.
“Ra…” Suara itu begitu dekat denganku, dengan Jiwaku.
“Kau sudah sadar, Sayang. Kau tidak apa- apa kecuali satu hal. Ohya, Kau masih ingat dengan Bu Ranti? Dia dokter yang merawatmu di rumah sakit ketika kau keguguran bulan lalu”
Aku memandang wanita itu, dia tersenyum seakan menyimpan banyak kata untuk diucapkannya. Aku mengangguk pelan.
“Kau tahu Ra, Pagi ini ada calon bayi dalam perutmu..” Ucap Mas Gilang sekenanya dan Aku mendadak merasa ingin mengeluarkan semua air mataku dan suaraku.
“Alhamdulillaah..Kau sungguh beruntung....”
Aku menarik Mas Gilang ke pelukanku dan menangis sejadi- jadinya disana. 

“Terima Kasih Tuhan, Kau telah menjenguk perasaan kami” Ucapku mirip seperti bisikan.

Keesokan harinya, Aku melihat sesuatu yang berbeda di dapurku. Ketika aku amati, ternyata Ya Tuhan……….. semua piring sumbing diganti dengan yang baru, lobang got sudah ditutup rapat dengan batu sehingga tikus-tikus tidak akan masuk rumah kami.

Aku langsung menyadari bahwa siapa lagi yang melakukannya jika bukan Kekasih hatiku itu, Aku langsung mencarinya. Aku tidak menemukannya di segala penjuru rumah. Ketika aku akan membuka pintu dan mencarinya di luar, aku sudah menangkap sosoknya di seberang jalan. Mengenakan jacket hitamnya, dengan gagahnya dia berjalan ke arahku- tidak lupa dengan senyumannya yang sejak setahun lalu telah membuatku jatuh hati padanya.
“Lihat, aku membawakanmu Rujak” Mas Gilang mengeluarkan rujak dari kantong dalam jacketnya.
“Mas………” aku hampir menjerit.
“Aku mendengar dari teman- temanku, katanya kau pasti akan meminta ini di tengah malam nanti. Jadi aku belikan sekarang saja”
Aku tertawa dan kontan meraih tangannya lalu menyalamnya.
“Terima Kasih untuk segalanya, Mas. Ini berlebihan..” Kataku dengan hati yang begitu mengangkasa.
Alhamdulillaah…..
::: SSH. Di Kamar Kost :::